Florence Sihombing Fever

So hey ho, sejak tanggal 1 September lalu saya sudah di Bali dan akan memulai magang di Bali Buzz – The Jakarta Post- untuk sebulan. Post yang satu ini mengenai hari-hari semenjak tiba di pulau Dewata ini. Langsung mulai ya…

Bali itu asyik, salah satu faktor yang membuat tempat ini menyenangkan adalah orang-orangnya yang ramah dan penuh senyum. Tiba di bandara Ngurah Rai, karena masih bingung dengan sistem transportasi Bali (dan ditambah koper saya yang segedhe gabah) saya memutuskan untuk menggunakan taksi untuk ke lokasi Kos.

Taksi di Bali mahal, tapi memang ada ya taksi yang murah? Luxury comes with a price, maka untuk mengurangi rasa sakit hati saya akan dompet yang kian menipis, saya mengajak ngobrol sang supir taksi. Dimulai dengan pertanyaan standar, ‘bapak dari mana?’, kos di Bali berapaan?’, ‘kalau saya mau ke Nusa Dua bagaimana?’, ‘trayek angkot Bali dimana?’ dan you know lah, pertanyaan semcam itu. Hingga memasuki momen kenalan dan saya menjawab berasal dari Yogya.

Oh Jogja, gek? Itu si Florence gimana sih ceritanya?” dan mulailah saya menjelaskan duduk perkara Florence Sihombing -Ratu SPBU Lempuyangan- terhadap bapak Supir Taksi. Pembicaraan kami panjang lebar dan menyentuh isu-isu hukum dan etika.

.

Sehari kemudian saya masuk ke kantor Bali Buzz, disana berkenalan dengan para karyawan yang bekerja di sana dan saya duduk-duduk di ruang tamu. Beberapa saat kemudian, muncul salah dua karyawan dan kami mulai mengobrol, “Kalau menurutmu, si Florence itu bagaimana?”. Muncul lagi nih nama yang satu ini. Sayapun mulai menjelaskan lagi bagaimana duduk perkara nona Sihombing.

Pembicaraan kali ini melebar ke etika dan kami membandingkan isu ini dengan twitt sehari-hari para perantau jakarta yang mencaci-maki kemacetan Jakarta. Sebenarnya mirip saja kan dengan yang dilakukan oleh Sihombing? Karena itu, terlihat jelas bahwa ada saja yang namanya korban sensasi, dan bagaimana pemerintah tidak dapat membuat peraturan yang jelas akan tata tertib masyarakat online Indonesia.

.

Pada hari yang sama pula, saya naik bemo (bukan becak motor, tapi panggilan orang Bali akan kendaraan angkot). Disana saya sempat bertanya-tanya dan mengobrol dengan supir. Setelah saya mengatakan saya berasal dari Jogja, yeaaaaaah Florence lagi yang ditanya.

Hal ini juga terjadi di keesokkan harinya ketika saya berkunjung ke sebuah museum. Saya yang clingak-clinguk di depan etalase lukisan didekati salah satu petugas dan kami berkenalan. Setelah ia mengetahui saya dari Jogja, ia pun juga minta dijelaskan duduk perkara Florence.

.

Intinya, 3 hari terakhir ini tidak lepas dari membicarakan akan sepak terjang nona satu itu. Yah, lumayan lah sebagai ice breaker dalam berkenalan dengan orang baru. Namun lama-lama saya merasa seperti juru bicaranya saja..

Dari semua pembicaraan itu, ada beberapa hal yang mulai saya tarik garis merahnya,

pertama, kasus Florence ini memang terkenal luar biasa. Social media, televisi, koran bahkan koran daerah Bali pun ikut mengikuti kasus ini. Sensasional lah.

kedua, Florence adalah ‘penjahat’ atau ‘korban’? Respon orang bervariasi, ada yang menyetujui bahwa apa yang dilakukan Florence memang keterlaluan dan sudah sepantasnya dia dihukum. Namun ada juga yang merasa bahwa masyarakat dan kepolisian Jogja terkesan berlebihan. Menurut saya, mereka bisa mengatakan kita lebay karena mereka tidak melihat situasi Jogja saat itu, yaitu panas, macet, antri bensin hingga tumpah 100 meter keluar SPBU.

ketiga, Florence adalah kambing hitam Jogja. Dalam kegerahan kelangkaan BBM yang lalu, masyarakat resah namun berusaha menahan amarah dan tidak melakukan aksi anarkis. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ada rasa geram di hati, munculnya sebuah status Path yang bersamaan dengan moment ini seakaan menjadi sudut pelampiasan kita semua. Saya pun juga tertegun, kesal dan ikut mensyukuri aksi bully yang ia terima.

keempat, maafkanlah dia. Toh kita-kita pasti juga pernah membuat status twitter yang berkomentar pedas akan macet di Jakarta, Bali atau sepanjang mudik itu. Selain itu, ada lebih banyak isu yang harus kita perhatikan ketimbang Florence. Dan seperti yang Pak Butet Kartaredjasa katakan di Facebooknya,

          “Flo itu spt knalpot blombongan. Kita sering terganggu bunyi knalpot asu itu, tapi ya udah. Santai wae bung. Ikhlas aja ta. Mosok kita lalu nguber pemilik motor penyebab adanya bunyi knalpot yg tdk menyenangkan itu, trus memperkarakan secara hukum dan menahannya? Apakah kicauan hujatan yg aslinya cuma monolog interior itu, merugikan org Yogya?
        Mengancam nasib kita? Membikin kita esok pagi modiaaar? Nggak tuh!!! Saya malah dapet energi baru utk membuktikan bahwa saya, yg kebetulan org Yogya adalah org beradab, tdk tolol dan bukan bangsat.”

Salam dari Jogja! Kota yang berbudaya, beradab, dan tidak tolol!

Advertisements

6 thoughts on “Florence Sihombing Fever

Reply This Way Beib

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s