[Berani Cerita #13] Alarm

Alarm

Jantungku berdentum keras, tangan terkepal kuat, licin karena keringat dan panas karena adrenalin.
Sepatu converseku menampar trotoar keras tanpa ampun. Tidak ada waktu lagi, tiada pula kesempatan dalam kesempitan.

Mati, mati, mati, mati, mati aku!!

Pepohonan hijau berkelebat di sudut mataku, anjing herder besar menggonggongi sosokku yang berlari kencang, udara segar serasa menusuk dada dan bukannya menyegarkan paru-paru. Aku memutar tubuh dan menerjang jalan raya.

Aku TERLAM-

DIIIIIIIIIIIINNNN!!

Mobil Yaris hitam berkelit cepat berusaha menghindari ku. Selama sepersekian detik, fokus ku pecah dan aku merasa seperti a deer caught in a headlights. Fokusku ambyar tertuju pada raut wajah sang pengemudi yang terlihat panik.

Namun ternyata gadis pengemudi Yaris jago berkelit, Ia memutariku dari belakang dan menancap gas kabur. Tidak ada waktu untuk saling mengecek, aku melanjutkan menyebrang ke sisi lain jalanan.

Tiba di seberang seorang bapak-bapak mendekatiku, namun aku tidak menggubrisinya. Dengan segera kaki-betis-dan paha kupaksa terus berkontraksi. Tidak ada waktu lagi! Aku melanjutkan lari ku yang bagai dikejar setan waktu.

Tiga lantai tangga kulahap, pintu ruang ujian kubanting keras hingga terbuka. Dahiku mengernyit, ucapan minta maaf berada di ujung lidah siap memohon ampun sudah mengganggu proses ujian.

Namun, aneh.

Para mahasiswa sedang sibuk melongo melalui jendela ruangan. Para mahasiswi sibuk berpelukan dan sesekali gencar menuliskan sesuatu di handphone mereka. Para kakak angkatan yang menjaga kelas sibuk berusaha menjauhkan mereka semua dari jendela.

Aku penasaran, apa yang sedang mereka lihat hingga melupakan ujian mereka? Ketika aku melongok keluar jendela,

Itu aku. Di jalan raya, terkapar bersimbah darah. Korban tabrak lari dari mobil Yaris hitam.

Aaah…. Pikirku, ini semua gara-gara keteledoran ku tadi malam. Aku lupa memasang alarm.

[]wc: 272[]

Advertisements