It’s A Jeep Thing

Semenjak menonton film The Bucket List, saya mulai memiliki sebuah check list akan hal-hal yang ingin kulakukan sebelum akhir hidup. Di dalam imaginary check list ini, terdapat beberapa hal yang luar biasa konyol dan mungkin terkesan sepele, some of them are:

. Bungee Jump
. Melihat Black Panther secara langsung (ingat Bagheera di film Jungle Book?)
. Pergi ke Alaska dan naik dog slide
. Dapat kartu pos dari Vatikan
. Punya hoodie serigala ala Dylan O’Brien
. Mengendarai mobil Volkswagen Kodok Bettle ke pantai
. Mengendarai mobil Jeep

IT’S

DSC_2193

A JEEP

 DSC_2082

THINGDSC_2083

I am beyond happy, elated and can’t believe my luck
then, it got better

DSC_2127I GOT TO DRIVE ONE
.
.
.

Dimulai dari ajakan bapak dan ibu untuk melakukan survei ke Kaliurang, kami hendak mengadakan reuni dengan alumni Politeknik tempat bapak dan ibu dulu bekerja. Pilihan kami jatuh ke paket lava tour yang disediakan oleh Grinata Adventure.

Lava Tour sendiri adalah sebuah paket wisata alam menggunakan mobil Jeep (atau mobil off road 4 wheel drive lainnya) dan melakukan perjalanan melihat sisa-sisa erupsi gunung Merapi 2010. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di situs mereka sendiri.

Selama ibu melakukan negosiasi harga dengan orang-orang Grinata, saya dan bapak melakukan tur inspeksi mobil Jeep dan mengobrol dengan para pengemudi mengenai mobil-mobil tersebut.

Ada Jeep dari tahun 1947, ada pula Daihatsu baru, ada yang dengan stir kanan dan ada pula yang dengan STIR KIRI. Selama melihat-lihat ini, pandangan kami jatuh pada sebuah Jeep Willyx tua yang terlihat unik.

Melihat gelagat saya dan bapak yang mulai mengelus-elus Jeep, foto-foto kap mobil, dll, salah satu penjaga driver menawarkan kami untuk mencoba tur pendek selama 1-1.5 jam. Kami terdiam, dan saling pandang. Tiba-tiba Ibu muncul setelah selesai membooking 3 Jeep untuk acara reuni. Tanpa pikir panjang, Bapak langsung mengangguk dan kamipun memulai perjalanan dengan Jeep tua ini.

It was amazing

Mobil Jeep yang kami pilih secara spesifik adalah sebuah mobil Jeep Willyx. Menurut salah satu driver yang ada di lokasi base camp, mobil yang satu ini diproduksi pada tahun 1968 dan berasal dari Amerika, karena itulah stir terletak di kiri. Saya menemukan stampel impor-nya (di stamp di dashboard mobil), tertulis bahwa mobil di keluarkan dari pabrik pada tahun 1994. Jadi ya sudahlah..

Mobil ini sekilas mirip dengan seri CJ, bisa dilihat dari kap mobilnya yang rata dengan dashboard mobil. Dulu, mobil seperti ini harus di slenger terlebih dahulu untuk dinyalakan. Maksudnya adalah, memutar mesinnya dengan tuas besar untuk men- jump start mesin, karena pada masa ia dibuat belum ada sistem aki.

Dan yeeep saya mengetahuinya karena diam-diam saya rada nerd mengenai Jeep…

Driver kami bernama Mas Agus, dan ia sangat lincah membawakan Jeep ini ke medan terjal, berat, mengerikan yang dengan pasti akan menghancurkan kopling suspensi torso axis ban rangka mobil biasa. Aku, ibu dan bapak tertawa terbahak-bahak, menjerit, terlompat-lompat dalam kursi dan berpegangan pada handle bar seakan nyawa kami tergantung pada seberapa kuat kami mencengkramnya *dan yeaahh.. aku sempat hampir terlontar beberapa kali dari Jeep tersebut*

Tanjakan yang berbatu, terjal dan membuat kami terombang-ambing dalam kursi

Tanjakan yang berbatu, terjal dan membuat kami terombang-ambing dalam kursi

Di satu titik, Mas Agus menawarkan saya untuk mengendarainya. It was like a dream come true, pada saat itu aku hampir menangis..

Syukurlah sistem mobil Jeep tidak jauh berbeda dengan mobil manual biasanya. Perbedaannya terdapat pada saat starter dimana kita harus ikut menginjak kopling ketika akan menyalakan. Stir yang belum power steering dan POWER nya yang terasa kuat sekali. Sensasinya hampir mirip seperti ketika membawa CR-V, namun terasa lebih liar dan penuh gonjang-ganjing. Dan juga, mobil Jeep yang satu ini tidak ada pintu dan safety belt.

Salah satu pengalaman driving saya yang paling ekstrem, berbahaya, mengerikan dan paling menyenangkan.

Setelah beberapa menit, saya segera mengembalikan kursi panas ke Mas Agus karena jalanan menjadi makin terjal dan saya takuuuuuuuuut :p

It’s Just Amazing

Benar-benar menyenangkan sekali, bagi saya pribadi, yang paling menyenangkan dari Lava Tour ini adalah mengendarai Jeep. Memang tempat-tempat yang kami kunjungi sungguh luar biasa. Namun bagi mereka yang menikmati wisata spontan, sensasi mengendarai JEEP inilah yang akan selalu diingat.

Mas Agus adalah driver yang hebat…. dan usil. Beberapa kali ia membanting setir dan melakukan putaran 360 derajat dan membuat saya, bapak dan ibu menjerit saking kagetnya. Roller coaster? Kalah!! Terdapat beberapa medan yang terlihat berat, TERJANG!! Ada genangan lumpur, SERANG!!

Walhasil rambut saya hancur berantakan, baju agak kotor karena cipratan lumpur, tangan berbau metal karena saking eratnya memegang handle bar, namun senang sekali.

Saya tidak tahu apakah ini memang bagian dari paket atau karena kami sekeluarga sangat ceria sehingga mendapatkan serangkaian bonus tambahan. Namun yang jelas, bila ada kesempatan lain untuk melakukan Lava Tour, akan segera saya lakukan.

.

Judul post ini diambil dari It’s A Jeep Thing by riventhorn.

Live Post – Clean Up Business, post Ash Rain

Bangun pagi jam 6 (iya keset…) dan langsung bersih-bersih rumah. Mulai dari lap perabotan, pel lantai (tidak usah disapu) dan mengambil sapu, cangkul, sekop dan mainan lainnya.

aaaaa, kebayang deh efek badai Katrina dkk kayak gimana kalau di Amerika

aaaaa, kebayang deh efek badai Katrina dkk kayak gimana kalau di Amerika

driveway ke garasi rumah

driveway ke garasi rumah

DSC_1978

Lumpur dan abunya diciduk, sekop, sapu, kumpulkan, dan entah mau diapain nanti..

Tetangga juga ikut reresik bersama

Tetangga juga ikut reresik bersama

Jalanan yang sudah lumayan lega

Jalanan yang sudah lumayan lega

Bapak (berusaha) membuat semacam sekop besar

Bapak (berusaha) membuat semacam sekop besar

Karung isi abu/tanah/lumpur

Karung isi abu/tanah/lumpur

Meanwhile... si abang yang berkedok demam sedang baca komik.. -_-

Meanwhile… si abang yang berkedok demam sedang baca komik.. -_-

 

Before and After

Before and After

Kebayang deh dengan bencana badai tropis seperti Katrina, Sandy dan semacamnya di Amerika sana. Untung kita hanya hujan debu+gerimis saja, jadi kalaupun berlumpur tidak terlalu parah. Tidak sampai rumah roboh, jalanan berlumput total atau hingga banjir (amit-amit!!) .

Kemungkinan bakal butuh 3-4 hari lagi hingga lingkungan terlihat normal, atau bila seandainya hujan deras turun juga boleh lho….

LIVE POST : Mount Kelud Erruption, photo’s from Jogja

Ini adalah LIVE POST pertama ku seumur hidup.

Beberapa foto pribadi mengenai keadaan erupsi gunung Kelud di Yogyakarta. Foto diambil olehku, di sekitar rumah dan di sekitar Kantor Balaikota Yogyakarta.

Persiapan foto!! Belum beberapa detik di luar, tubuh sudah dihujani abu.

Persiapan foto!! Belum beberapa detik di luar, tubuh sudah dihujani abu.

Tanaman rumah tetangga, perhatikan deh kontras warna abu dan hijaunya tanaman. Debu lumayan tebal..

Tanaman rumah tetangga, perhatikan deh kontras warna abu dan hijaunya tanaman. Debu lumayan tebal..

Tanaman shrubs depan rumah tertutup abu. Pretty Freaky

Tanaman shrubs depan rumah tertutup abu. Pretty Freaky

Rumah tertutup abu, sekilas terlihat seperti salju, namun membuat nafas agak sesak dan sakit tenggorokan..

Rumah tertutup abu, sekilas terlihat seperti salju, namun membuat nafas agak sesak dan sakit tenggorokan..

Jalan di depan komplek perumahan, tebal debu kira-kira 3 cm adalah.

Jalan di depan komplek perumahan, tebal debu kira-kira 3 cm adalah.

Jalan Kenari (depan Kantor Balaikota), tiap kali mobil melintas, abu berterbangan kemana-mana

Jalan Kenari (depan Kantor Balaikota), tiap kali mobil melintas, abu berterbangan kemana-mana

Lapangan Parkir Balaikota tertutup Abu

Lapangan Parkir Balaikota tertutup Abu

It’s #aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa worthy hashtag.
Teringat ketika erupsi gunung merapi ketika Jogja juga ikut diselimuti abu vulkanik. Namun entah kenapa, erupsi Gn. Merapi efeknya tidak separah saat ini…

Ciao! Until next photo post

ArtJog 2013, To Drown in Thy Culture

Art Fair Jogja 2013

Budaya Maritim: To Drown in Thy Culture

Setiap tahun di Taman Budaya Yogyakarta pada bulan Juli diadakan sebuah even seni raksasa bernama Art Fair Jogja. Dari tahun ke tahun, event ini selalu dinantikan baik oleh khalayak seniman maupun umum, karena selain karya-karya yang disajikan sangat unik dan menyegarkan mata, event ini sepenuhnya gratis. ArtJog 2013 menyajikan tema Budaya Maritim, memang tiap tahunnya tema yang diangkat selalu berbeda dan unik.

ArtJog 2013 ini menjadi event ArtJog ke-2 ku yang akan kudatangi bersama seorang sahabat sejak zaman SMA, Huda. Kami berjanji bahwa setiap tahunnya, ArtJog akan menjadi sebuah ritual tahunan yang akan kami datangi. Lumayanlah karena kami sama-sama tipe orang yang rada nyleneh dan senang berkomentar ngaco, selain itu Huda dan saya sama-sama menyukai fotografi, maka event ini selalu menjadi sasaran hunting ground kami.

Selain itu, seorang sahabat saya yang lain, sekaligus merupakan panitia Art Jog 2013 mengatakan bahwa:

“kitanya ngga usah nyeni-nyeni banget kok, datang aja. Banyak yang menarik dan bagus, dan lumayanlah sekalian nambah-nambah prof pic di FB ;D”

Maka berbekal kamera, baju tribal (agar bila difoto kelihatan jelas diantara karya-karya) dan senyum-sapa-semangat, saya dan Huda mendatangi Art Jog 2013 dengan penuh semangat.

ArtJog001

Hull of a hip and a carousel, this year’s entrance is magnanimous!!

WHOA!! Cover itu penting, begitupula dengan entrance dari ArtJog 2013 kali ini. Setiap tahunnya seniman ArtJog memang selalu menciptakan instalasi entrance yang luar biasa, tahun ini tidak kalah dengan sebelum-sebelumnya. Malah menurut saya, tahun ini sangat luar biasa dan RAKSASA.

Sebuah sisi kapal yang terbuat dari tong minyak yang disolder, sebuah carousel dari Papermoon Puppet Theater dan pahatan ekor ikan paus berwarna perak (tidak ada di foto).

Sisi kapal yang terbuat dari tong minyak ini membuat semua orang ternganga dan terkagum-kagum, saya takut menyentuhnya karena terlihat jelas terdapat banyak karat yang bisa saja membuat kita sakit tipes. Maka cukup mengaguminya dari jauh sambil menebak-nebak logo-logo perusahaan minyak yang terpampang pada tong-tong.

Ada juga carousel berjudul Finding Lunang yang dibuat oleh Papermoon Puppet Theater, sebuah Puppet Theater company dari Yogya yang sudah menghasilkan berbagai karya yang sudah dipentaskan di luar negeri. Saya sendiri belum pernah menonton langsung teaternya, namun melihat situs resminya, video teater mereka yang diupload di Youtube dan berdasarkan artikel yang dulu pernah saya edit untuk Teras Pers, tampaknya Papermoon Puppet Theater is the real deal.

The

The detail is amaaaazing!!

Menurut sebuah plakat yang diletakkan dekat dengan carousel ini, Finding Lunang dikisahkan sebagai sebuah perjalanan bahari mencari tempat dimana para manusia-manusia laut ini dapat meng……. akupun sebenarnya kurang mengerti. Namun bila bisa kuinterpretasi secara pribadi, instalasi ini mengingatkanku pada film Waterworld yang diperankan oleh Kevin Costner.

ArtJog003

I don’t really understand, but it’s interesting!!

Memasuki gedung ArtJog 2013 kita akan melihat berbagai instalasi seni yang menarik, unik dan agak membingungkan. Karya yang berbentuk seperti tulang belakang ikan/sirip/accordion(?) ini sebelumnya pernah kulihat di Selasar Galeri Soemardja di ITB  pada awal bulan Juli 2013 ini. Saat itu saya sedang liburan di Bandung dan seorang sahabat yang seorang mahasiswi ITB. Kami berjalan-jalan sepanjang lorong-lorong gedung-gedung tua di universitas lama tersebut, salah satunya adalah ke Selasar Sunaryo di bagian SR dimana saya melihat karya ini.

Kembali ke TBY Jogja, ada juga sebuah set print on canvas dengan logo BP, tangker minyak dan a giant blop of black ink. Whoops, ini jelas merupakan sebuah sentilan pada BP akan kejadian di teluk Meksiko yang kemarin.

ArtJog004

The photographs are amazing, and I feel like making one of these mix media art

Terdapat sebuah pojok yang dikhususkan untuk fotografi, foto di kiri diambil dari sebuah kapal yang sedang mengarungi laut di tengah badai. Sang fototografer mengambil gambar ini dari ujung paling atas mast kapal tersebut. Bila diperhatikan, terdapat beberapa percikan air di foto, dan terlihat juga di geladak kapal beberapa nelayan yang sibuk dengan tugas mereka masing-masing.

Foto-foto ini merupakan foto-foto yang mendapatkan penghargaan 3 Point Award yang dianugerakan pada para fotografer yang konsisten dengan fotografi mereka dan memberikan kita sebuah image-image luar biasa. Melihat beberapa foto-foto ini membuatku ingin sekali mengambil satu, lari dan memajangnya di kamarku sendiri!

ArtJog005

A Tane in her natural habitat, in front of an amazing painting

ArtJog 2013 tampaknya lebih banyak menampilkan karya non-lukisan (kriya, pahatan, instalasi?? Entah istilah seninya apa..), namun tidak berarti tidak ada lukisan sama sekali. Malah lukisan favorit saya adalah lukisan sebuah perahu putih di padang pasir, bisa dilihat bahwa shading nya sangat luar biasa sehingga lukisan terkesan seperti 3 dimensi! Instalasi di gambar kiri adalah sebuah kapal raksasa berkarat dimana diatasnya terdapat rumah-rumah,  Huda menamakannya ‘Kapal dari film Avengers versi Jadul’ -___-

ArtJog006

Unique stuff keeps popping in

Terdapat sebuah instalasi yang sempat membuat ku dan Huda agak sedih, foto di pojok kiri adalah sebuah laci raksasa dengan gambar peta Asia-Eropa, di dalam laci-laci tersebut terdapat berbagai replika garam, batu apung, cengkeh, beras daun teh dan lain-lainnya. Kami merasa bahwa ini merupakan sebuah gambaran mengenai ’emas’ pada zaman kolonial dulu, yaitu rempah-rempah. Dan bagaimana negara-negara jajahan ini hanyalah sebuah laci-laci yang tinggal dibuka dan diobrak-abrik oleh kaum penjajah..

But oh well, smile to the camera..

ArtJog007

Hello and Goodbye’s! I can see why Sindy was chosen as one of the volunteer now, she has a lovely smile 😀

Di akhir tur kami melihat Sindy!! Ia salah seorang sahabatku di kuliah yang menjadi panitia Art Jog 2013, melihat foto ini aku menjadi mngerti kenapa ia lolos seleksi kepanitiaan, senyum Sindy sangat menyenangkan dan membuat orang merasa ingin tersenyum juga 🙂 Sindy bercerita bahwa hari pertama pembukaan Art Jog dikhususukan bagi tamu-tamu VIP yang tertarik untuk membeli karya-karya di ArtJog 2013 ini. Ia juga bercerita bahwa sudah cukup banyak karya yang dibeli, baik dengan harga puluhan juta hingga beberapa milyar! Ada sebuah karya yang tidak sempat kufoto, namun karya tersebut diberi harga Rp 2,5 M namun hingga saat ini belum laku. Sedangkan karya di kanan atas ini sudah laku seharga Rp 85 juta. Di tangan Sindy adalah buku katalog karya yang lengkap dengan harga-harga tiap karya. Sindy hanya menunjukkannya sekilas padaku dan angka-angka di buku itu cukup mengagumkan..

.

Tur berakhir, namun aku masih ingin mengunjunginya lagi. Masih banyak waktu hingga malam penutupan, dan terdapat beberapa karya yang rasanya aku masih belum puas memandanginya.

ArtJog008

A derpina and derp in their natural behavior: derping

Bila di Jogja pada bulan Juli, datanglah ke ArtJog! Bingung sih bingung, tapi menyenangkan juga melihat berbagai instalasi karya anak bangsa kita terpajang dengan gagahnya 🙂

.

Edited on July 22nd.

Kudo’s to Sabrina who pointed out my mistake on Selasar Galeri Soemardja.

The Blues Clues

DSC_4482

Minggu menjelang ujian? Ayo kita nonton konser Blues!!

 Setelah menerima secuil Blues 101 dari dosen Film dan Sinema dan seorang fan berat Blues, aku baru mengetahui bahwa Blues adalah asal-usul dari lagu-lagu modern di dunia. Cabang Blues menjalar hingga Jazz, Pop bahkan alternative. Jazz sebenarnya adalah orang kulit putih yang menyanyikan Blues, bukan kebalikannya. Ca va?

Blues yang ku ketahui adalah lagu-lagu menyayat hati dari kaum kulit hitam yang tinggal di daerah suburb ketika zaman apartheid Amarika zaman dulu. Ingat lagu Georgia on my Mind oleh Ray Charles?

Georgia yang indah, yang masih mengalami segregasi dan tidak menerima kulit hitam untuk bahkan menginjakkan kaki di tanahnya. Ray dengan puitisnya menumpahkan rasa frustasi dan pasrah kepada sistem ke lagu ini.

For me, Blues are that kind of song

DSC_4467

Pluck the strings, pluck my heart. Under the shady blue light we join the blues

Bandingkan dengan versi lagu Georgia on my Mind yang dinyanyikan Ella Fitzgerald, dan nuh-uh. Walau nama belakangnya sama, Ella tidak memiliki hubungan apapun dengan the Fitgzgeralds.

Sama! Petikan gitar menggantikan dentingan piano Ray, namun suara Ella yang bermain dengan bravado mengubah lagu Georgia hingga terasa jauh lebih mendalam dan penuh soul.

Mendengarkan Blues berbeda dengan Jazz. Lagu-lagu Norah Jones mengingatkanku pada hujan dan menikmati macet selama 3 jam. Namun terasa tidak masalah karena Norah membuatnya menjadi hal yang sangat puitis dan dapat dilalui.

Everything is possible in Jazz, because it’s so lovely.

Blues berbeda dengan Jazz, karena Blues adalah lagu yang dinyanyikan para pekerja setelah seharian bekerja keras. Pasrah, namun penuh dengan gejolak.

Blues carries more emotion, because reality is not that simple.

Bagi para pendengar modern yang lebih mengapresiasi permainan instrumental, mereka mungkin akan lebih familier dengan Georgia on my Mind oleh Gerald Albright. A genius interplay of saxophone, though sax are not really my cuppa tea (IDK, I don’t really enjoy Kenny G), I don’t mind Gerald’s play.

Trumpet and sax, what a lovely duet

Trumpet and sax, what a lovely duet

Ok, so I admit that I have around 3 version of Georgia on my Mind in my iTunes. Go ahead, sue me!

Hal yang paling menarik dari konser Why Blues? adalah banyaknya jumlah lagu country dan old school rock dinyanyikan oleh band yang menapaki panggung.

There’s even a dude who sang Elvis and Johnny Cash! Which was so awesome mind you. While I have no real problem with Elvis, I do have a thing with Mr. Cash here. My Dad is an avid fan of Cash’s work; he will most religiously play that song every morning to bug us from bed…

The dude who sang the blues with Presley's style and Cash's deep voice

The dude who sang the blues with Presley’s style and Cash’s deep voice

Kembali ke argumentasi bahwa Blues adalah asal-usul lagu modern. So yeah… Tidak ada salahnya bila para country singer ini ikut bernanyi bersama kita. Namun selama menikmati lagu harmonica yang dimainkan salah satu pemusik, muncullah sebuah pertanyaan.

Apa bedanya country, folk dan ballad?

Memang Ballad lebih kearah lagu-lagu yang identik dengan zaman King Arthur, lagu dari pertunjukkan Riverdance, dan lagu sedih yang dinyanyikan Pippin di Lord of the Rings yang ketiga. Folk adalah Puff the Magic Dragon dengan cerita dan moral yang berusaha disampaikan dengan melodik. Dan country…  Sweet Home Alabama! Where the skies always blue…

Mmkay, modern country song is Taylor Swift, Lady Antebellum and that cowboy from the Voice. But classic country is outback in the wild and screams of Laura Ingalls Wilder. It’s about love, hard work and family in the age of early independent America.

Dan blues adalah…

I’m not sure anymore, music is music. It grips your heart and entertains your mind.

.

.

.

 

To All the Heartliners Out There 002

ketika inspirasi ditemukan saat pena menggores kertas, jari-jari berdansa di atas keyboard, dan secangkir teh mint setia menemani di pagi hari yang dingin.

To all the heartliners out there, an anthology of inspiration in vignette verse.

002 dusk

20120828-212251.jpg
Memandang senja kian redup dibawah naungan putihnya bulan sabit yang mengintip dari angkasa nun jauh di sana.