available for swap

For Swap

Following my boredom on waiting for Postcrossing’s official postcard, I decided to join the Postcrossing FB group. This is where people interested in Direct Swap could post, promote and exchange information on card they would like to swap.

It’s a lot more efficient than begging for other Postcrossing user via Private Message. The people in that group are very nice and soft spoken, though there are a certain aggressive one who demands a lot..

So here goes my current options 😀

available for swap

available for swap

From Top Left – Right

1. Postcard from Balcony restaurant. Features a delicious looking smoked salmon

2. Postcard from Singapore, featuring night view of the bay

3. Indonesia postcard, featuring a lady making a traditional umbrella

4. Postcard from Singapore, Chinatown at midday

5. Marilyn Monroe and her amazing thigh

6. Old guiness advertisement


manga style postcard

manga style postcard

Got this series from a Manga Festival in my town. 5 of them are drawn by the same person. A cute girl who study economy in UGM. The first time I met her, we went into a series of awkward giggle. I think I bought too much and she felt kinda bad with the price she charges 😀

You could contact her at her private mail in: namasaya.aima@gmail.com

She still have a mighty design in her sketch book.


Up for options, cross linked to Postcrossing FB group

Dari Mukund Chiplunkar di India.

(Now) I’m In The Business of Sending Direct Postcard

Memang sih menunggu kartu pos itu romantis, tapi terkadang dalam romansa ini terasa juga PHP yang membuat kita merasa tergantung dan galau sendiri. Terutama bila menerima email dari situs postcrossing yang isinya ‘Days Your Mailbox is Happy: 0

Yep, atas dasar itulah saya mulai terjun ke arena Direct Swap di Postcrossing.

Direct Swap adalah mengirim kartu pos tanpa menggunakan sistem random address nya Postcrossing. Yang perlu kita lakukan adalah browsing ke akun-akun pengguna lain dan mengecek apakah mereka menerima opsi Direct Swap atau tidak.

Bila ya, kirim saja email kepadanya. Email yang kukirimkan kira-kira berisi seperti ini:

“Hi! my name is Tane and I’m from Indonesia.
I’m interested in Direct Swap with you and I would really love sending postcard or anything else with you.
You can mail your address to tanehadiyantono@yahoo.co.uk and we can talk about it more 🙂

Tidak selamanya email ini dibalas, namun sesekali ada juga yang membalasnya..

Dari Yu-Ting di Taiwan, ini adalah kartu kedua yang ia kirimkan

Dari Yu-Ting di Taiwan, ini adalah kartu kedua yang ia kirimkan

Kartu yang satu ini merupakan kiriman dari Yu-Ting, ia berasal dari Taiwan. Kartu ini sebenarnya adalah kartu kedua yang ia kirimkan, kartu yang pertama belum sempat ku foto.

Yu-Ting adalah anggota baru di Postcrossing, jadi hehehe, lumayan mudah deh mengajaknya berkirim langsung. Email ajakan Direct Swap saya ia balas dalam jangka waktu beberapa jam saja. Terlihat jelas bahwa ia sangat enthusias dan well… Happiness is contagious 😀

Kemarin saya baru saja mengirimkan kartu pos balasan ke padanya, I hope she’ll like it.

Kartu ini dikirimkan pada 23 Januari 2014 dan tiba pada 10 Maret 2014.

Dari Mukund Chiplunkar di India.

Dari Mukund Chiplunkar di India.

Ada juga dari seorang India bernama Mukund Chiplunkar. Postcrosser yang satu ini sudah sangat senior. Menurut laman profilnya, ia sudah mengirimkan lebih dari 2700 kartu. Bayangkan deh. Dan di profilnya ia juga menuliskan bahwa ia menyukai berkirim surat, jadi tanpa panjang lebar saya mengirimkan email ke padanya.

Balasan dari Mukund cukup lama, mungkin ia juga sedang menyortir email request lainnya. Di email yang ia kirim pada saya, ia bertanya apakah saya memiliki permintaan tertentu akan kartu yang saya minta. Saya membalas bahwa bila memungkinkan boleh deh kartu yang ramai dan ada visual aktivitas orang-orangnya..

Kartu ini dikirimkan pada 8 Februari 2014 dan tiba pada 10 Maret 2014.


Sebenarnya saya masih memiliki beberapa kartu hasil Direct Swap lainnya. Diantaranya ada kartu resep makanan khas Russia, ada juga gambar Chiang-Kai-Sek tower dan lainnya.

Sekarangpun saya coba untuk selalu menambahkan embel-embel:
“ps. If you want me to reply your card, just mail your address to my email at tanehadiyantono@yahoo.co.uk :)”
karena kadang-kadang kita juga ingin kan kartu pos yang kita kirim ke random stranger akan dibalas?

Have a great day! And Happy Postcrossing!


Lookie What I Made

As you all know from my previous posts, these past few months I’ve been really into postcards. So far I have received 13 postcards from many places, including Tasmania, Ukraine, Germany, USA and Palembang 😀

To be honest, I was most ecstatic when I received a postcard from fellow Indonesian, there’s this ‘Holly Molly!! An Indonesian postcard!!’ there’s this proud feeling I had when I received it. Twas’ a nice feeling..

So yeah, now I have a nice *albeit small* pile of postcard from around the world, and it made me wonder how to showcase these beautiful postcards in my room. So I made this:

fyeah commercial wall art, I'm rolling in the DIY Wave

fyeah commercial wall art, I’m rolling in the DIY Wave

I’m a fan of DIY works :]

Granted I’ve never post any DIY works I made in my blog, so prolly not many of you know of this closet hobby of mine *guilty as charged*.

But I did made this stopmotion video for mum’s birthday.
And I did made this green notebook by my self.
And there’s this DIY book I made for my friend 😀

Point is, I like getting down and complicated with sticky glue, sewing machine and busting my camera’s memory card.

Coastal Caroline in tribal wave

Coastal Carolina in tribal wave

About this wall art, it’s a simple job that cost you around 30k. I bought the fabric at jalan Solo Yogyakarta, there’s a bunch of fabric shops in that area which sells various fabrics.

This crepe fabric with tribal pattern cost me 20k for a 1×1.5meter wide.
I use two ribbons, light brown and maroon red. 5 meter each, cost around 4.5k
The pipes *there’s another one on the bottom to make sure the fabric stay rigid and won’t sway with the wind* came from private inventory
The pretty wood peg are from a store in PVJ Bandung, if I’m not mistaken it’s called Blowfish shop. I forgot how much it cost.. But you could always use IKEA standard peg and it will be fine *tho people will question the aesthetic of it*

Making this piece is an easy job. All you need to do is to sew a loop in both ends of the fabric for the pipes and Voila! What makes this particular deco tricky is the fact that crepe fabric is very light and thin. It’s a bit hard to align the fabric with the sewing machine’s needle and making sure that you’re sewing the ribbon to the fabric in a straight line.

But I enjoy the whole process and I’m happy with the result.

As you can see, it’s not finished. I planned to sew the remaining 10 meter ribbon to the fabric, but yesterday I was feeling a bit off and decided to postpone the sewing until next time.

So yeah, that’s what I’ve been doing this past couple of days 🙂





postcard fever

Part of my Postcrossing project.

Because the kid who sat beside me in class today asked what the hell I am doing in the middle of a class. And another friend of mine once asked what kind of things I write in my postcard.

Two prompts at one go, challenge accepted.


deleting the identity of the receiver for privacy reason which nobody bothers but I did just because I can.




Long time since I wrote anything with real substantial. Need my writing mojo back, come baaaaaaack bby.

here have my song of the day:

I'm in love with triplets pup and Ukraine's wheat field

There’s a Postcard on my Table

There’s a Postcard on my Table


Suatu hari, seorang sahabatku yang bernama Dien Retno mengenalkanku pada situs Postcrossing.com. Sebuah situs yang menghubungkan orang-orang yang tertarik dengan dunia kirim mengirim kartu pos. Bila ingin lebih jelasnya, bisa langsung lihat ke situsnya atau cek postingan yang luar biasa membantu ini: Denissa’s Blog.

Singkat kata, saya jadi penasaran dan mengikuti kegiatan postcrossing ini, 5 kartu pos pertama saya ditugaskan harus terbang ke Russia, Germany dan Hongkong. Awalnya ketika hendak menyerahkan kelima kartu pos ini, luar biasa skeptis dan agak keki rasanya.

Agak ragu, dan bimbang sebelum membeli perangko dan mengirim para kartu pos ini. Beli kartu pos, satu sekitar 4 ribuan, kirim satu kartu pos ke eropa habis 8.000. Jadi kira-kira untuk modal sekali kirim harus menyiapkan Rp 12.000,00 lah. Harga yang murah sih, tapi kalau sekali kirim langsung 5 ya agak meringis juga nih dompet.

Selain itu, setelah browsing di internet, saya menemukan beberapa testimoni bahwa satu kartu pos membutuhkan waktu minimal satu bulan hingga tiba di tangan penerima, jadi akan baru 2 bulan (atau lebih) sejak kita mengirim baru akan menerima balasan. Takut keburu lost interest

Kemudian bimbang, mau menulis apa ya? Tentang diri, tentang Indonesia, tentang Jogja atau tentang makanan khas seperti gudeg? Bagaimana kalau si penerima tidak suka atau bingung dan merespon negatif?

Tapi ya sudahlah, namanya juga coba-coba…

Kira-kira 2 bulan kemudian, pada hari ketika saya pulang dari Bandung, terdapat dua kartu pos bertengger dengan nyamannya di meja belajarku.

I'm in love with triplets pup and Ukraine's wheat field

I’m in love with triplets pup and Ukraine’s wheat field

Satu datang dari Ukraina dan yang satunya lagi dari Finlandia.

Kartu pos dari Ukraina dikirim oleh seorang Yana, ia bercerita mengenai musim panas di negaranya dan ia juga menulis bahwa ia berharap dapat menjelajahi Laut Hitam. Sedangkan kartu pos dari Finlandia dikirim oleh Saevoken (I’m not sure tho, the handwriting is funny) yang menuliskan asalnya, yaitu dari Finlandia bagian Utara, tepatnya dekat dengan perbatasan Swedia. Keduanya sangat random, namun membuatku merasa seperti menerima sebuah surat dari seorang teman lama.


A fiddler from Germany and a haute couture from USA

Beberapa minggu kemudian, sebuah kartu pos datang lagi. Kali ini mereka berasal dari German dan Amerika. Katrin dari German bercerita bahwa walaupun ia tidak pernah ke Indonesia, ia merasa mengenal Negara ini dengan cukup baik karena ia dulu pernah menjadi seorang supporter untuk seorang gadis yatim piatu di Indonesia melalui organisasi Plan International. Hingga sekarang Katrin dan anak Indonesia ini masih sering bertukar surat.


I LOVE the hamsters. Their song is my new conscience

Kartu pos paling unik yang saya terima berasal dari Jepang. Selain gambar di kartu posnya yang lucu dan unik, hal-hal yang ditulis Kaori membuatku tersenyum.

Total kartu pos yang sudah kukirim adalah 8, dan kartu pos yang sudah kuterima adalah 6. Senang dan rasanya tidak sabar hingga mendapatkan kesempatan untuk dapat mengirim kartu pos lagi. Dari beberapa kartu pos yang sudah saya terima ini, saya merasa bahwa, toh menulis apapun juga tampaknya tidak masalah. Bahkan jauh lebih menarik bila kita menuliskan hal-hal paling sederhana maupun random yang terlintas di kepala kita, seperti Kaori. Bisa juga menulis mengenai kisah inspiratif seperti Katrin yang membuat saya merasa bahwa di luar sana sebenarnya ada banyak sekali orang yang baik hati.


brrp sorry for the slight blur.

Yang menarik dan unik dari kegiatan ini adalah, bahwa bahkan dengan gegap gempitanya online social media dan makin ditinggalkannya budaya mengirim surat, ternyata masih banyak orang di luar sana yang giat berkirim surat maupun kartu melalui jasa Pos.

Sempat juga merasa agak terharu dan sekaligus bersalah dengan anggapan bahwa Pos Indonesia itu lambat, mahal dan merugikan (baik costumer maupun Negara). Namun sebenarnya ada romantisme sendiri ketika kita menunggu dengan harap-harap cemas akan kartu pos yang akan kita kirim maupun terima.

Siapa lagi di sini yang tertarik dengan kirim mengirim kartu pos? Memang awalnya agak mencemaskan dan membuat saya ragu, namun it’s going to be very exciting when you read your very first post card from somewhere around the globe.



I’m losing my writing mojo. Wait, do I even have it in the first place? Sudah lama tidak menulis……. 😛