For Every Stumble and Each Misfire

 

So hello,

Sudah lama sekali tidak menulis posting di blog ini. Terakhir adalah mengenai kepindahanku ke Medan, which is amaaazing. Orang-orang di sini sangat ekspresif, makanannya luar biasa enak, wisata alamnya membuat diri melakukan refleksi hidup. Haha, rasanya hari-hari yang lampau terkesan remeh bila dibandingkan dengan saat ini.

Carpe diem..!! Seize the day, enjoy your life, aka. sindrom anak rumahan yang pertama kali nge-kos and enjoying it very much.

Awalnya memang penuh rasa gugup dan tidak yakin. Berada di lokasi baru dengan kebudayaan yang benar-benar berbeda dan orang-orang yang tidak kukenal menjadikan Medan suatu dunia yang luar biasa aneh.

Banyak yang mengatakan Medan adalah kota yang tidak pantas disebut sebagai metropolitan, dan aku harus menyetujui pernyataan ini. Dari segi pembangunan kota, jumlah pencakar langit, jumlah kafe Starbucks dan gaya hidup masyarakatnya masih jauh dari metropolis. Banyak jalanan arteri dalam keadaan bolong-bolong, bangunan kuno yang tidak terurus, kafe-kafe yang konsepnya tidak matang. Namun semua itu terbalas saat akhir pekan dihabisi dengan menjelajahi Sumatra Utara. Gunung Sibayak, Danau Toba, Air Terjun Sipiso-piso, arung jeram, pantai mangrove dan Berastagi adalah beberapa lokasi yang sudah kudatangi.

It’s fun, if you have the attitude to make it fun. I took a long detour before I could enjoy living in this Calcutta* of mine. There were a lot of regrets and denial, the ups and down. And that is what I’m going to talk about in this post🙂

‘Watching through my fingers. Shut my eyes and count to ten’

Ever regret anything your past self did? Well I do, did, will, couldn’t, SHOULDN’T.

Hingga saat ini masih ada banyak teman-teman yang bertanya kepadaku, kenapa kok bisa sampai memilih untuk pergi jauh ke Medan? Jawabanku masih sama dengan sebelumnya, “kenapa tidak?”

Empat bulan yang lalu, hidupku terasa kacau. Lulus kuliah namun tidak mendapatkan pekerjaan. It’s scary. Bayangkan semua waktu yang sudah kuhabiskan untuk mendapatkan predikat sarjana, semua uang yang habis untuk investasi pendidikan, semua impian dan cita-cita yang dari hari ke hari seakan habis terserap tissue, tinggal dibuang saja.

Di bulan-bulan pertama pasca kelulusan, aku keluyuran dari satu tempat ke yang lain. Mencari pelarian di berbagai event kebudayaan, bertemu orang-orang baru, belajar menjadi barista kopi, minum kopi hingga sekian banyak (kemudian mengalami caffeine withdrawal pertamaku, salah satu hal paling menakutkan yang pernah ku alami), nongkrong tak tentu di internet cafe, maraton anime-anime sampah, touring keliling Jogja.

Maka pada saat ditawarkan kesempatan untuk magang ke Jakarta, of course I took it. Dan saat ditawarkan pekerjaan di Medan, damn sure I grabbed it. Karena kala itu terasa sakral sekali, yang namanya kesempatan adalah sesuatu yang harus kita terkam.

Tiba di Medan, perasaanku berubah kacau-balau tak menentu. Medan mengerikan, Medan tidak ramah, makanannya pedas semua, jalanannya hancur, peraturan ada untuk dilanggar. Stress? Oh tentu saja.

Ditambah juga dengan tekanan pekerjaan dan tanggungjawab yang blegh. Mengingat beberapa bulan pertamaku benar-benar membuat bulu kuduk merinding. I was a complete clueless, didn’t know anything about marketing but had to train over 40 people on how to sell a product. Those salty days..

Dulu aku benar-benar menanti hari Sabtu dan membenci hari Senin. Hari-hari kerja kuhabiskan dengan berusaha melebur jam kerja yang terasa sangat panjang, sedangkan akhir pekan kuhabiskan dengan tidur malas di kos atau nongkrong di mall. Dibilang depresi sih tidak, sedikit tertekan dan kesepian lah yang lebih tepat.

I called my friends and family. Kami membahas mengenai hidup, perjalanan kuliah, siapa mau nikah dengan siapa, siapa yang sudah kerja dan siapa saja yang sedang sibuk meniti karir entrepreneur. Sempat terpikir untuk resign dari pekerjaan dan berusaha mencari opsi lain di Jogja, atau entah dimana saja yang penting di Jawa.

Bulan-bulan pertama tidak jarang aku menangis setiap menutup pembicaraan telepon. I miss my homies so freaking much. Kangen pacaran dengan sohib-sohib nongkrong cantikku, kangen keluyuran di art bazaar yang bertebaran di Jogja, kangen kasih crash course on english, kangen dengan anak-anak komunitas kartupos, kangen jalan-jalan di lembah UGM, kangen lihat burung migrasi di taman Mall Ambarukmo, kangen restoran-restoran di jalan Moses, kangen marah-marah ke adikku, kangen masak sendiri, kangen mesin cuci di rumah (for real..!!).

Tapi semakin lama di Medan sini, semakin kurasa: ne, loe gila kalau segini aja udah nyerah. Sobat dan keluargaku juga memiliki satu pandangan yang sama, bahwa sebenarnya aku beruntung sekali bisa segera mendapatkan pekerjaan tak lama selepas kuliah. Beruntung lho neee….!!

Egois ngga sih kalau aku terus mengeluh? Terus mengatakan tidak puas dengan pekerjaan dan independensi dan kesempatan hidup mandiri ini? Egois banget ngga sih? Seakan ditampar, sakit perih panas, tapi memang itulah hidup, kadang kita harus menyadari bahwa tidak semuanya menyenangkan. Tidak semuaya akan selalu aman dalam naungan orang tua dan rumah, suatu hari kita semua harus memutuskan untuk diri sendiri, and live with that decision.

Jadi apa yang kulakukan?

  1. Eat out with friends, karena ternyata orang-orang Batak luar biasa kocak dan bisa membuat rahangku sakit karena terlalu banyak ketawa.
  2. Make plans to travel every week, because Sumatra Utara is big, wonderful and unknown.
  3. Read Russian author books, their combination of winter days and alcoholic tendencies turns into a very self deprecating lit, will make your crappy days seem OK.
  4. Search vegan restaurants, karena aku harus makan lebih banyak sayur..
  5. Do daily workout and morning Yoga, demi apa oh demi apa..
  6. Build relationship with people at office, karena mereka adalah tulang punggung keseharianmu.

Tidak banyak berbeda dengan yang dulu kulakukan ketika di Jogja. Sama-sama jalan dengan teman, tetap berpetualang, membaca buku dan mencari makanan enak. Hanya yang berbeda adalah orang-orang di sekitar, lokasinya, dan diriku.

‘In my thoughts you’re far away, and you are whistling the melody, whistling the melody’

Suatu hari ketika mendengarkan lagu-lagu acak racikan Spotify, lagu Good Grief** oleh Bastille mulai berputar. Sekilas mendengarnya dan aku merasa the her dalam lagu ini adalah kehidupan lamaku di Jogja.

Jogja adalah rumah, dan ketika kita meninggalkan rumah, disitulah hidup yang tidak pernah kita sangka akan dimulai. Apakah aku menyesal meninggalkannya? Sekarang dengan santai aku bisa mengatakan, ‘tidaaak.’ Karena tentu saja aku yang sekarang sudah lebih kuat dan mengetahui indahnya hidup independen dan rasa jantung berdebar saat menghamburkan uang hasil kerja sendiri (hehe, motivasi hidup banget.)

Maka untuk semua antuk dan sandung serta salah dan keliru, tidak apa. Itulah perjalanan hidupmu, itulah yang membuatmu berbeda dengan yang lain.

*”Stay where you are, find your own Calcutta,” a great quote by Mother Theresa. In a way, I misinterpret the quote into a more selfish rendition. I thought Medan was my India, in which, a hell hole where I have to survive and prove my self.

**Good Grief oleh Bastille, easily one of my current favorite song. Lagu ini mengenai penyesalan seorang pria yang ditinggal kekasihnya. Hidup seakan menjadi kacau, ia menghabiskan momen-momen mengerikan dengan menghitung mundur (stress exercise 101), ia menyesali semua kebersamaan yang tak lagi bisa diabadikan, singkat kata, ia rindu. Namun dengan segala liriknya yang sedih dan penuh penyesalan, beat dan ritme lagunya yang menyenangkan membuatku merasa, tidak apa merasa sedih, yang penting adalah mengakui rasa sedih ini, dan melaluinya.

Mahasiswa Politik

20 Mei adalah Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan pada hari tersebut merupakan napak tilas momentum sejarah pergerakkan anak muda Indonesia pada era kolonial Belanda. Pada hari tersebut tahun 1908, didirkan sebuah organisasi pemuda bernama Boedi Oetomo. Organisasi ini terdiri dari mahasiswa, aktivis, wartawan dan berbagai tokoh-tokoh yang mempelopori asas perjuangan nasional. Yang muda, yang hebat, dan yang menggetarkan dunia.

Maju 108 tahun setelah organisasi Boedi Oetomo didirikan, tepat pada 20 Mei 2016, aku berdiri di persimpangan Patung Arjuna Wijaya, atau yang sekarang lebih populer dikenal sebagai Patung Kuda Indosat, meliput longmarch Aliansi BEM se-Indonesia yang mengkritik program Nawacita Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Respon pertama saat dapat penugasan: gila aja.

Respon kedua saat di lokasi: gila, mereka hebat. Continue reading

Double Suicide Lover and Jazz

If I have to single out a music genre I will be regaled to listen for the rest of my life, it will definitely be Jazz.

Death, love, disgust, sex, obsession and passion all tangled up in lewd whisper and heavy bass. Sarcasm, confidence and pride in foxtrot of piano and high note saxophone. So full of life, so full of creepy notes that crawls under your skin. This particular song, took the cake.

「薄ら氷心中」林原めぐみ
Utsura Kooi Shinjuu (Thin-Ice Lovers Suicide) by Megumi Hayashibara.
Performed for anime Showa Genroku Rakugo Shinjuu

Continue reading

Gap Period, Don’t

Lulus, terus mau apa?

a. Gaji buta di rumah, jadi kupu-kupu sosialita, loncat satu komunitas ke yang lain
b. Cari pekerjaan, bangun koneksi, rajin kirim CV via situs lowongan kerja, interview
c. Backpacking baca: pelarian ke Sumatra Barat, nongkrong dan tampil mendadak di sebuah pub
d. Naik gunung
e. Otodidak belajar bahasa lain
f. Maraton anime

Enam opsi di atas benar-benar terjadi, tentu dengan segala harkat dan martabat mau ditaruh entah dimana. Yang jelas, lulus dengan IPK cum laude tidak berarti segera dapat pekerjaan dengan mudah. Sudah ada beberapa interview yang saya datangi, namun pffft. Cukuplah jangan dibahas terlebih dahulu.

Kesal? Ooooh don’t ask, don’t tell. Ada saat-saat dimana saya merasa tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya diam di rumah, naik motor dan nongkrong di cafe, belajar barista dan meminum kopi hingga sekian banyak. Tidak begitu produktif, namun damai dan menyenangkan.

Untuk sesaat, hidup terasa seakan tanpa beban, agenda harian hanya terdiri dari, ‘keluar rumah, nongkrong dengan teman, baca buku, internetan, animeanimeanime.’ Lingkaran setan banget.

But life keeps going on, and before you know it, diam terus di tempat maka otakmu lumat tak berkutik. Semangat habis, hari terasa kosong dan tidak bermakna. Hampa hampa ham pa ham paham?*

Jadi setelah segala drama di atas, tiba-tiba Ayah saya menawarkan sebuah solusi gila.

‘Mau coba magang di media?’

Setelah mencari informasi kiri-kanan, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil program yang ditawarkan Tempo Institute: Kelas Jurnalistik Intensif 6 Bulan.

Program tersebut adalah garapan Tempo Institute yang berdiri tepat dibawah naungan grup media Tempo. Pelatihan intensif ditambah dengan program magang untuk memberikan peserta pengalaman nyata sebagai jurnalis Tempo. It’s though, grueling, so many hardship, but I enjoy it.

Continue reading

Ahmad Dhani, Tolong Jelaskan Padaku….

Bagi umat kristiani dan katolik, Paskah adalah rangkaian hari besar untuk memperingati sosok messiah mereka. Bagi saya yang beragama muslim, seminggu Paskah ini adalah momen liburan, jalan-jalan dan mencicipi berbagai kafe di Jogja bersama teman-teman.

Hari mulai padam menuju sore, dan siang hari yang panas menjadi sekedar kenangan semata. Namun saya dan teman-teman bersikeras untuk mencoba kafe Gelato yang baru beberapa bulan ini buka di sepanjang Jl. Dr. Soetomo, Jogja. Balas dendam pada siang yang panas seru kami, biar saja sore dingin yang penting manis, bela kami.

Empat scone gelato di tangan, kami memilih tempat duduk tepat di bawah AC agar delicacy ini tidak segera meleleh. Satu, dua, tiga, topik terucap dan pembicaraan random dimulai, hingga akhirnya kami mendarat pada topik politik Jakarta.

Inti pembicaraan kami adalah, Ahmad Dhani, bagaimana kabarmu ya?

Continue reading

Facing Fear Itself

Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage
色彩を持たない多崎つくると、彼の巡礼の年
by Haruki Murakami

So many symbolism. At one point reading the book, you will do this. Spread your palm in the cover and –realizes-.

The main reason why I bought this book stemmed from three point of reason,

  1. It was considerably cheaper than other Murakami’s book in the store at that time
  2. The title strongly reminded me of Kuroko no Basuke’s Phantom 6th Player [*]
  3. Gdmmt its Haruki Murakami’s work, what more reason do you need?

So yeah, I bought it, finished it in two days, and the story still haunts me till now. It cut near the heart, especially to people who are familiar with being alienated [**]

Growing up, you must have a group of very close friends that might give Mighty Morphin Power Rangers a run of their money. Friends you hang around together, so often you gave each other assigned name, rank or even color. Somebody is red for leader, blue for being strong and brash, green for their calmness and yellow/pink/white for the ladies. But like every epic TV series, things went south. Friendship shattered and trust gone, such thing happens everywhere and it also happened in Nagoya city to Tsukuru Tazaki and his precious friends.

[TLDR] This post will be part book review, part analysis and part life reflection. Continue reading