/ˈiNG(g)liSH/

Post ini akan bercerita mengenai bahasa Inggris dan perjalanan saya belajar dengan metode low budget untuk tes IELTS dengan hasil band 7,5. Boleh lah ya.

.

What do you want?

Saya menyukai bahasa Inggris, dan saya ingin hidup dengan bahasa tersebut. Kedua poin inilah yang memotivasi saya untuk terus mengejar dunia global dan keinginan besar untuk kuliah di luar negeri. Tentu jalan menuju kuliah S2 sangatlah panjang dan pelik, dan salah satu tantangan yang harus saya lalui adalah mendapatkan sertifikasi kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni.

Apa yang harus dipersiapkan? Ko.mit.men.

Sebelum mempelajari bahasa, sebaiknya kita benar-benar mencari tahu mengapa kita ingin mempelajari bahasa tersebut. Trust me who have studied several languages; you need the motivation to do it else dropping precious class in the middle of term.

Motivasi seperti apa yang bisa mendorongmu? Apakah,

  1. Karena mempelajari bahasa itu menyenangkan? Okay, mempelajari bahasa cukup menyenangkan. Saya menyukai mempelajari frasa dan kosakata, namun mempelajari tata gramatikalnya kadang sangat membingungkan.
  2. Apakah mempelajari bahasa substansial untuk hidup di luar negeri? Yes, saya pernah belajar bahasa Jerman dan pergi ke Jerman, pelajaran saya kala itu baru di level dasar. Saya dapat membeli kebutuhan di pasar dan memahami “alles ist vier euro funfundvierzig!! Nein nein wir sprechen kein Anglais!” seandainya saya dapat berdiskusi lebih banyak pasti bisa mendapatkan buah dengan harga normal dan bukan harga turis yang lebih mahal.
  3. Mempelajari bahasa demi lulus ujian? Wrong, bahasa hidup dan mati dalam otakmu. Bila kita mempelajari bahasa hanya demi lulus, sekalian tidak usah saja karena standar keinginanmu sangat rendah dan tidak akan cukup memotivasi untuk berusaha. Kembali ke motivasi saya untuk kuliah S2 di luar negeri, saya ingin hidup di dunia internasional, karena itulah saya mempelajari bahasa Inggris.

Agak kasar? Tentu saja, karena mempelajari bahasa itu tidak hanya mengenai menghafal kosakata dan memahami tata bahasa. Namun, mengenai membaca, mendengar, menulis, berbicara dan berpikir dalam bahasa tersebut.

.

Saya menyukai bahasa Inggris, kebanyakan karena ibu saya adalah guru bahasa Inggris dan memberikan keluarga kami ekspos yang sangat berlimpah semenjak kecil. Sedangkan bapak adalah seorang liberal dengan pemikiran yang sangat maju dan menikmati ekspos internasional sejak kecil. Kedua kombinasi tersebut memberikan saya banyak kesempatan untuk mempelajari bahasa kedua. Saya sangat bersyukur

.

99:1 of preparation and sheer dumb luck

Apa yang harus dipersiapkan untuk mengikuti tes IELTS?

Uji kemampuan bahasa Inggrismu terlebih dahulu. Seberapa besar kita memahami bahasa Inggris? Apakah kita dapat membedakan invisible dengan invincible? Menulis kata definitely dan approximately tanpa cela? Memahami frasa through the grapevine?

Jangan khawatir, menguji kemampuan bahasa Inggris tidak harus dengan mengikuti les, karena di zaman serba online dan gratis, selalu ada alternatiif lain. British Council memiliki sebuah tes kecil untuk menilai kemampuan Bahasa Inggris kita. Coba saja di link ini British Council atau Cambridge English untuk melihat level kemampuan kita,

Temukan cara belajar yang cocok untukmu. Saya lebih menyukai belajar bahasa dengan praktik daripada teori, maka saya menyarankan untuk membaca buku dan menonton tanpa subtitle Inggris. Lengkapi juga dengan menulis dalam bahasa Inggris, karena melalui tulisan kita dapat benar-benar menilai kemampuan bahasa kita secara cermat.

Selagi menulis, pelajari tata bahasanya. Rajin-rajin membaca buku, mendengarkan musik berbahasa Inggris dan menonton film tanpa menggunakan subtitle.

Baca APAPUN dalam Bahasa Inggris

Baca sebanyak-banyaknya buku berbahasa Inggris. Ketika kita membaca buku, jurnal dan berita berbahasa Inggris, maka kita membaca tulisan yang sudah melaui proses edit dan kelola yang standar. Dari artikel-artikel itulah kita dapat memahami pengguanaan, konteks dan nuansa kosakata dalam bahasa Inggris.

Tentu saja banyak yang mengatakan bahwa mereka tidak memiliki waktu untuk membaca buku, tapi toh kenapa kita selalu memiliki waktu untuk update history instagram ataupun endless scroll path?

Saya sangat menyarankan untuk memulai membaca majalah National Geography edisi internasional. Hal ini karena selain artikel nya yang menarik, foto-foto yang sangat indah, namun juga karena topik bahasannya yang sangat bervariasi.

Menulis dalam Bahasa Inggris

Tata bahasa memang bisa dipelajari dengan menghafalkan rumus gramatikal, namun nuansa dan penggunaan bahasa tidak semudah S + V1. Misal, terdapat berbagai macam cara untuk mengkombinasikan ‘kucing + makan + ikan,’

The cat eats the fish, a cat is eating the fish, a cat may eat a fish, a fish is eaten by cat, a sophistically beautiful cat is eating a smelly third world fish, a household feline devours aquatic creature for supper.

Kinky yeah? Nah bagaimana cara kita mendapatkan imajinasi merangkai kata seperti ini? Dengan membaca-membaca-membaca dan akhirnya menulis-menulis-menulis.

Menulis dalam Bahasa Inggris (2)

Menulis itu tidak hanya ‘menulis’, namun menggunakan tata bahasa yang benar, memilih kosakata yang tepat sasaran, mencari sinonim kata agar tulisan tidak membosankan dan lainnya. Banyak yang harus dipersiapkan sebelum menulis, dan berikut adalah beberapa buku/situs peganganku dalam menulis essay:

  1. Oxford Dictionary
    Untuk mencari contoh penulisan kalimat yang benar.
  1. Thesaurus Merriam Webster

Dan saat kalian sedang latihan menulis di MS Word, coba cek sinonim kata-kata dengan opsi highlight > klik kanan > Synonym.

 

Nonton Seminar Bahasa Inggris dan Mendengarkan BBC Radio

Youtube adalah sahabat baikmu dalam latihan listening, saya sarankan jangan mencari video mengenai IELTS preparation karena video-video tersebut sangat membosankan. Saya sarankan kalian untuk mendengarkan kuliah TED Talks

TED adalah singkatan dari Technology, Entertainment, Design, adalah sebuah organisasi yang mengunduh kuliah-kuliah umum ke kanal digital untuk ditonton publik. Terdapat banyak sekali mater kuliah yang sangat menarik dan disampaikan oleh berbagai macam orang. Jadi selain mendapatkan ilmu dan perspektif baru, kita juga melatih kemampuan mendengarkan bahasa Inggris dari non-native-but-genius-speaker lainnya.

Setelah selesai mendengarkan sesi kuliah, coba membuat resume nya dan membahasnya dengan sparring partnermu. Coba cari tema yang aneh, kontroversial dan unik agar pengetahuan yang kamu dapatkan menjadi kian beragam.

Di sisi lain, mendengarkan BBC Radio adalah opsi klasik. Namun saya tidak terlalu menyukainya karena pasti akan selalu gagal fokus dengan lagu-lagu yang mereka putar. Memang sih playlist lagu saya menjadi sangat unik dan tidak mainstream, tapi jadi tidak bisa fokus belajar..

.

Low budget is the best budget

Nah, bila kalian adalah muda-mudi yang agak keberatan dengan biaya les IELTS preparation yang OMG (seperti saya), maka mengikuti kelas bahasa dapat menjadi sebuah kendala. Namun selalu ada solusi belajar bahasa Inggris tanpa mengeluarkan biaya hingga berjuta-juta. Yaitu:

  1. Beli/fotokopi buku IELTS. Saya sendiri menggunakan Barron’s IELTS Superpack dari Periplus yang terdiri dari 4 buku guide and practice dan 4 CD yang sangat bagus sekali. Superpack ini tersedia dalam kisaran harga Rp 900,000,- which is hella cheaper than signing up with IONS, EF or other education service.Dua kata mengenai buku ini, BAGUS BANGET. Banyak teman-teman yang mengatakan Barron’s susah dimengerti atau terlalu serius, namun menurut saya ini cocok sekali untuk kita yang serius mempelajari IELTS.

    Tipe buku ini adalah no nonsense, tidak ada penjelasan mengenai grammar, verb tricks etc etc. Namun lebih kepada latihan menjawab pertanyaan IELTS. Terdapat banyak kombinasi latihan ujian, dan yang paling saya sukai adalah buku latihan kosakata nya. Sunggu memberikan banyak kata-kata baru yang dapat saya gunakan tepat konteks.

  2. Ikut kelas Massive Open Online Course di futurelearn.comSaat saya mulai belajar IELTS, saya menemukan situs futurelearn.com dan mengikuti kelas ‘Inside IELTS’  dari Univesitas Cambridge. Kelas tersebut tidak membahas soal latihan IELTS, namun menyajikan materi mengenai panduan yang digunakan penguji untuk menilai hasil ujian IELTS. Salah satu materinya yang sangat menarik adalah tabel di link ini.

    Selain mempelajari materi kuliahnya, kita juga dapat mengikuti sesi tanya jawab dengan pengajar dari Cambridge, mengikuti group telegram pelajar IELTS dan mencari partner belajar. Sayangnya saya tidak sempat mencari partner belajar, namun saya sempat aktif berkorespondensi melalui comment box dengan pelajar lain. Informasi dan cerita yang mereka sampaikan sungguh menarik dan memberikan saya input belajar IELTS dari sisi yang lain.

    Nah, bila ingin mencoba sendiri, dalam waktu dekat Futurelearn dan British Council akan membuka kelas ‘Undestanding IELTS’, you guys should really check in to that class. And have I mention that it’s totally f.r.e.e? 

  1. Cari sparring partner dan proofreaderAdik saya adalah debaters bahasa Inggris tingkat SMA yang memiliki kemampuan reply yang sangat pedas, menusuk dan mematikan segala argumentasi. Sparring kita bisa berakhir dengan saling memicingkan mata dan perang dingin karena kami sama-sama makhluk yang tidak mau salah.

    Walaupun hehe, jujur saja, 80% argumentasi yang kami keluarkan berakhir dengan penekanan, because it is so, and f*** you!! Anyway bro, Iluvu.

    Untuk proofreader maksudnya adalah seseorang yang membaca essay-mu dan melakukan koreksi bila terdapat kesalahan. Ibu saya adalah proofreader yang sangat baik dan saya eksploitasi habis-habisan selama masa belajar IELTS.

    Sedangkan untuk kalian, coba saja mencari orang-orang yang jago bahasa Inggris dan minta mereka mengajari kalian. Relatif pasti mau karena toh membagi ilmu bahasa itu cukup menyenangkan.

.

Its haaard, yes it’s hard

Belajar bahasa memang susah, tapi bila memang ingin kuliah ke luar negeri, tentu saja harus tetap kita lakukan. Akhir kata, jangan menyerah dan temukan cara belajarmu yang paling menyenangkan.

 

Life That Ends with Thankfulness

I consider myself as a cat person, thus when I chance upon cat movies, watching “If Cats Disappear from the World” became natural. Hear me out, it was amazing.

“If you could cheat death by trading the things you cherish, what will happen to you?” is the premise of this Japanese movie, notice the bold cum italic and you’ll wonder maybe this one will be different from other kick the bucket movies. Yes, it is about death, specifically facing death. Yes, there will be a Faustus character, but he won’t offer world domination through magic book. Yes, it’s about regret, friendship, gratefulness and a couple of cats named after vegetables.

tumblr_o70g09yf7i1u0s9l5o1_500

I love how I could recognized most of the Kanji (source)

The Asianwiki summary of this Japanese movie was,

“A postman learns that he doesn’t have much time left to live due to a terminal illness. A devil then appears in front of him and offers to extend his life if he picks something in the world that will disappear. The man thinks about his relationships with ex-friends, ex-lovers, relatives and colleagues who will be sincerely sad when he dies.”

At first, it sounded confusing and seemed as if it’s going to pull us into weird Japanese proses, but a glance at the mute poster, you’d see subdued pastel colors, soft camera filter and Takeru Satoh’s blank gaze. I thought it won’t disappoint me much since these kind of cinematography are my favorite and at least I could enjoy the pretty pictures.

Before you continue with the post, I hope you can take some time to check the soundtrack for they are very soothing and classic. I can’t seem to find the right code to embed only the music, damn Youtube TOS, and I can’t seem to find any soundcloud uploads, so please take your time to press play on the video above. Continue reading

For Every Stumble and Each Misfire

 

So hello,

Sudah lama sekali tidak menulis posting di blog ini. Terakhir adalah mengenai kepindahanku ke Medan, which is amaaazing. Orang-orang di sini sangat ekspresif, makanannya luar biasa enak, wisata alamnya membuat diri melakukan refleksi hidup. Haha, rasanya hari-hari yang lampau terkesan remeh bila dibandingkan dengan saat ini.

Carpe diem..!! Seize the day, enjoy your life, aka. sindrom anak rumahan yang pertama kali nge-kos and enjoying it very much.

Awalnya memang penuh rasa gugup dan tidak yakin. Berada di lokasi baru dengan kebudayaan yang benar-benar berbeda dan orang-orang yang tidak kukenal menjadikan Medan suatu dunia yang luar biasa aneh.

Banyak yang mengatakan Medan adalah kota yang tidak pantas disebut sebagai metropolitan, dan aku harus menyetujui pernyataan ini. Dari segi pembangunan kota, jumlah pencakar langit, jumlah kafe Starbucks dan gaya hidup masyarakatnya masih jauh dari metropolis. Banyak jalanan arteri dalam keadaan bolong-bolong, bangunan kuno yang tidak terurus, kafe-kafe yang konsepnya tidak matang. Namun semua itu terbalas saat akhir pekan dihabisi dengan menjelajahi Sumatra Utara. Gunung Sibayak, Danau Toba, Air Terjun Sipiso-piso, arung jeram, pantai mangrove dan Berastagi adalah beberapa lokasi yang sudah kudatangi.

It’s fun, if you have the attitude to make it fun. I took a long detour before I could enjoy living in this Calcutta* of mine. There were a lot of regrets and denial, the ups and down. And that is what I’m going to talk about in this post 🙂
Continue reading

Mahasiswa Politik

20 Mei adalah Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan pada hari tersebut merupakan napak tilas momentum sejarah pergerakkan anak muda Indonesia pada era kolonial Belanda. Pada hari tersebut tahun 1908, didirkan sebuah organisasi pemuda bernama Boedi Oetomo. Organisasi ini terdiri dari mahasiswa, aktivis, wartawan dan berbagai tokoh-tokoh yang mempelopori asas perjuangan nasional. Yang muda, yang hebat, dan yang menggetarkan dunia.

Maju 108 tahun setelah organisasi Boedi Oetomo didirikan, tepat pada 20 Mei 2016, aku berdiri di persimpangan Patung Arjuna Wijaya, atau yang sekarang lebih populer dikenal sebagai Patung Kuda Indosat, meliput longmarch Aliansi BEM se-Indonesia yang mengkritik program Nawacita Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Respon pertama saat dapat penugasan: gila aja.

Respon kedua saat di lokasi: gila, mereka hebat. Continue reading

Double Suicide Lover and Jazz

If I have to single out a music genre I will be regaled to listen for the rest of my life, it will definitely be Jazz.

Death, love, disgust, sex, obsession and passion all tangled up in lewd whisper and heavy bass. Sarcasm, confidence and pride in foxtrot of piano and high note saxophone. So full of life, so full of creepy notes that crawls under your skin. This particular song, took the cake.

「薄ら氷心中」林原めぐみ
Utsura Kooi Shinjuu (Thin-Ice Lovers Suicide) by Megumi Hayashibara.
Performed for anime Showa Genroku Rakugo Shinjuu

Continue reading

Gap Period, Don’t

Lulus, terus mau apa?

a. Gaji buta di rumah, jadi kupu-kupu sosialita, loncat satu komunitas ke yang lain
b. Cari pekerjaan, bangun koneksi, rajin kirim CV via situs lowongan kerja, interview
c. Backpacking baca: pelarian ke Sumatra Barat, nongkrong dan tampil mendadak di sebuah pub
d. Naik gunung
e. Otodidak belajar bahasa lain
f. Maraton anime

Enam opsi di atas benar-benar terjadi, tentu dengan segala harkat dan martabat mau ditaruh entah dimana. Yang jelas, lulus dengan IPK cum laude tidak berarti segera dapat pekerjaan dengan mudah. Sudah ada beberapa interview yang saya datangi, namun pffft. Cukuplah jangan dibahas terlebih dahulu.

Kesal? Ooooh don’t ask, don’t tell. Ada saat-saat dimana saya merasa tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya diam di rumah, naik motor dan nongkrong di cafe, belajar barista dan meminum kopi hingga sekian banyak. Tidak begitu produktif, namun damai dan menyenangkan.

Untuk sesaat, hidup terasa seakan tanpa beban, agenda harian hanya terdiri dari, ‘keluar rumah, nongkrong dengan teman, baca buku, internetan, animeanimeanime.’ Lingkaran setan banget.

But life keeps going on, and before you know it, diam terus di tempat maka otakmu lumat tak berkutik. Semangat habis, hari terasa kosong dan tidak bermakna. Hampa hampa ham pa ham paham?*

Jadi setelah segala drama di atas, tiba-tiba Ayah saya menawarkan sebuah solusi gila.

‘Mau coba magang di media?’

Setelah mencari informasi kiri-kanan, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil program yang ditawarkan Tempo Institute: Kelas Jurnalistik Intensif 6 Bulan.

Program tersebut adalah garapan Tempo Institute yang berdiri tepat dibawah naungan grup media Tempo. Pelatihan intensif ditambah dengan program magang untuk memberikan peserta pengalaman nyata sebagai jurnalis Tempo. It’s though, grueling, so many hardship, but I enjoy it.

Continue reading