For Every Stumble and Each Misfire

 

So hello,

Sudah lama sekali tidak menulis posting di blog ini. Terakhir adalah mengenai kepindahanku ke Medan, which is amaaazing. Orang-orang di sini sangat ekspresif, makanannya luar biasa enak, wisata alamnya membuat diri melakukan refleksi hidup. Haha, rasanya hari-hari yang lampau terkesan remeh bila dibandingkan dengan saat ini.

Carpe diem..!! Seize the day, enjoy your life, aka. sindrom anak rumahan yang pertama kali nge-kos and enjoying it very much.

Awalnya memang penuh rasa gugup dan tidak yakin. Berada di lokasi baru dengan kebudayaan yang benar-benar berbeda dan orang-orang yang tidak kukenal menjadikan Medan suatu dunia yang luar biasa aneh.

Banyak yang mengatakan Medan adalah kota yang tidak pantas disebut sebagai metropolitan, dan aku harus menyetujui pernyataan ini. Dari segi pembangunan kota, jumlah pencakar langit, jumlah kafe Starbucks dan gaya hidup masyarakatnya masih jauh dari metropolis. Banyak jalanan arteri dalam keadaan bolong-bolong, bangunan kuno yang tidak terurus, kafe-kafe yang konsepnya tidak matang. Namun semua itu terbalas saat akhir pekan dihabisi dengan menjelajahi Sumatra Utara. Gunung Sibayak, Danau Toba, Air Terjun Sipiso-piso, arung jeram, pantai mangrove dan Berastagi adalah beberapa lokasi yang sudah kudatangi.

It’s fun, if you have the attitude to make it fun. I took a long detour before I could enjoy living in this Calcutta* of mine. There were a lot of regrets and denial, the ups and down. And that is what I’m going to talk about in this post 🙂
Continue reading “For Every Stumble and Each Misfire”

Advertisements