Life that Makes you Blush

 

“Guys, aku mau buka kartu, minggu depan aku pindah ke Medan ya, dapat kerja disana nih,”

“…. Tan, loe gila ya. Perasaan kemarin kamu baru dari Jakarta deh.”

“Yupppsss, you know me lah May.”

Tidak lama setelah post Gap Periode, Don’t, sebuah hal yang luar biasa terjadi padaku: tawaran kerja untuk Perusahaan Accenture. Plot twist-nya adalah, posisi kerja untuk proyek di Medan.

Saat tawaran ini tiba di tanganku, aku sedang berada di Jakarta di tengah-tengah program magang Tempo. Bingung, senang, panik. Setelah mendeliberasikan isu kepada orang tua dan beberapa rekan sesama magang kemarin, aku memutuskan untuk mengambil tawaran ini. Alasannya hanya satu: why not?

Why not?

Seperti kata Dory di film Finding Nemo, ‘Well, you can’t never let anything happen to him. Then nothing would ever happen to him.’

Nothing happened is the worst happening ever. Seperti ikan hiu, kita harus terus bergerak agar hidup. Seperti kaum yang ingin diselamatkan, kita harus terus berusaha. Dan sebagai anak muda, kita harus gila dan mencoba semuanya. Perubahan, tantangan, dan kegilaan: itulah triumvirate yang menggerakkan takdir dan membangun karakter kita.

Di sisi lain, kuakui diriku memang manusia yang berprinsip untuk mencoba semuanya. Hidup independen, merantau jauh di sebuah kota yang begitu asing terdengar begitu aneh dan menyenangkan.

Program magang Tempo yang baru kujalani satu bulan ini harus kutinggalkan. Ada rasa menyesal saat aku melepaskan program ini. Menjadi wartawan memang adalah salah satu ambisi hidupku, tapi agar hidup ini terus berjalan, yang lebih kuperlukan dibanding magang adalah pekerjaan. Mungkin belum saatnya menjadi wartawan sungguhan, aku berharap pintu tersebut akan terus terbuka..

.

Apakah aku takut? Tentu saja ya, beberapa hari sebelum berangkat, rasanya hati sempat goyah dan ingin menangis. Terbayang hidup sendiri di kota lain yang tak pernah kudatangi sebelumnya, puasa dalam suasana asing, berbuka entah bagaimana dan sahur sudah tidak terbayang harus harus menyiapkan apa saja.

Namun dalam keadaan koper sudah diisi penuh, tiket ditangan, air mata diujung kelopak, dan malam terakhir sebelum keberangkatan:

“Bapak dulu lebih takut saat kamu ke Jerman sama ke Bali daripada ke Medan ini lho,” kata Bapakku.

Oh iya ya..

“Anak perempuan sendirian ke luar negeri, gimana nanti kita hubungi dia?” lanjut Bapak.

Ah iya…

“Memang ada kartu kredit, tapi bagaimana kalau nanti kena masalah visa? Kena rampok? Kecelakaan? Cari kos sendirian, makan sendiri, kerja sendiri di Bali sana?”

Oh ya..?

“Jerman itu negara lain, kamu perempuan Asia di Eropa. Bali di pulau lain, kita ngga ada saudara di sana, tapi kamu tetap survive kok ne.”

Oh.. ooooh…

“Tahun lalu kamu puasa di Kulon Progo bersamaan dengan KKN kan? Sempat depresi tapi bisa dilalui juga kan..”

Oh..!

“Don’t think about it, just do it. You are strong, and you can do it.”

.

Jadi, bagaimana Medan?

So far so good. Secara kebudayaan sangat berbeda; lebih lugas, tegas, dan galak. Aku menjadi pribumi di tanah masyarakat Melayu, Batak, Tionghoa dan India. Bahasa dan logat yang unik, pola pikir yang berbeda, dan lebih lagi makanan yang wow..!

Inilah petualangan dalam kota, mendengar ritme jantung kota yang berbeda dari metropolitan Jakarta. Jauh lebih galak dari lembutnya Jogja, dan lebih beringas daripada Bali yang tenang.

Unik, menyenangkan dan pertemanan di kantor lah yang membuatku merasa sangat bersyukur dan senang di sini. Rasanya belum banyak yang bisa kuceritakan mengenai Medan secara eksklusif, semoga bisa segera kulaporkan bila sudah ku jelajahi dengan lebih mantap 🙂

.

Seperti yang sempat kusampaikan di Gap Period, stagnansi membunuh. Diam dalam kenyamanan itu tidak sehat. Kita harus mencoba hal-hal yang mengerikan untuk mengetahui senangnya hidup ini. Tidak apa menggila, tidak apa menangis. But try it, and you will be addicted to all the possibilities out there. Could never get enough.

.

Now I’ve found another crush
The lush life’s given me a rush
Had one chance to make me blush
Second time is one too late

Lush life – Zara Larsson

.

Advertisements

13 thoughts on “Life that Makes you Blush

  1. Nadia Khaerunnisa says:

    Pertama kali denger triumvirate, encouraging! 😊 dl pernah ke Medan utk urusan dinas, sejak pertama kali nyampe udh kerasa enaknya sih menurutku. Maksudnya ya a nice place to live lah. Kulinernya ngangenin, suasananya dinamis, oke deh hehe have a good life ahead!

    • Tane Hadiyantono says:

      Hello helloo
      Haha senang deh bisa berbagi vocab baru, triumvirate sebenarnya artinya [(in ancient Rome) a group of three men holding power], tapi bisalah dimaknai sebagai trio power.
      Kuliner sini oke punya, apalagi yg buka lapak di jalanan. Tapi aku paling suka karakter orang di sini yang keras, lurus dan tegas. Beda banget dengan orang Jawa lah 😀

  2. aryantowijaya says:

    Tepat hari ini, setahun yang lalu aku ke Medan untuk backpackeran. Menurut Lonely Planet, Medan termasuk kota terburuk untuk disinggahi di Indonesia. Ah, Medan, terlalu rumit untuk digambarkan, serumit bentor yang melaju tanpa aturan!

    Good luck kak Tane, semesta menyertaimu!

    • Tane Hadiyantono says:

      Oh iyaaa, Java-Sumatra overland mu itu ya? Habis bulan puasa nih aku dan teman-teman ada rencana mau travelling tiap weekend, kalau kamu ada rekomen tempat boleh banget di share nih. Kalau Medan kotanya memang kurang enak buat wisata, berdebu, panas dan ngga beraturan..
      Thank you Ari..!! Kamu juga teruslah berkelana dan bersenang-senang yaaa

  3. Ira says:

    You can do it Tane!!! tapi kyknya di Medan ga melalui keadaan kurang menyenangkan kyk waktu kkn kan ya?
    ah lebaran kali ini ga bisa berbagi cerita ya kita? ><
    semoga aku dapet tugas ke Medan di bulan-bulan depan, jadi bisa bertemu dan ngobrol kita

    • Tane Hadiyantono says:

      Thxu kak ira 😀
      Lebaran tahun ini mungkin ke Bandung mungkin engga, entahlah. Lihat keadaan bapak juga cuz he’s getting older dan jarak tempuh+macet bikin aduhai euy.
      Amiinn come here to Medan, nanti ku ajak ke hanging out spot di sini.. :))

      • Ira says:

        where? Merdeka walk? XD
        yeah I aware that our parents are getting older. Padahal naek pesawat aja ke Bandungnya Tane…ah tapi mau mampir dulu ke rumah nenek ya…

Reply This Way Beib

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s