The Inevitable Wait, To Not Wait

Menunggu,
a
dalah salah satu hal yang paling tidak kusukai. I cannot for the love of god, to sit down and wait as the time pass by, doing completely nothing.

Tapi kemanapun, dimanapun dan dalam berbagai situasi, akan ada suatu selongsong waktu di hari kita dimana kita harus menunggu. Baik menunggu teman yang telat datang, menunggu kereta karena kita datang lebih awal dan lainnya.

People watching is not my thing, nanti dikira stalker malah, tidak baik..

My cell phone is a dud. Handphone yang kumiliki adalah Nokia E-50 antik yang sangat kusayangi dan merupakan lungsuran dari ayah. Memang sengaja tidak ku hook up dengan internet karena kartu prabayarku adalah Halo yang otomatis akan meng-charge mahal sekali. Selain itu tombol navigasinya sudah luar biasa butut dan tidak ada game.

Karena itulah, tiap kali berpergian atau keluar rumah, barang-barang yang wajib kubawa adalah:

1. Buku Bacaan

2. Buku Tulis dan ballpoint.

Tentunya kedua benda ini selain barang-barang yang memang wajib dibawa seperti tas, handphone, dompet dan hand sanitizer.

.

The Inevitable Wait, To Not Wait

.

Alkisah seorang Tane sedang menunggu di stasiun kereta api Bandung untuk kereta Lodaya Malam, kereta berangkat jam 19.00 menuju stasiun Tugu Yogyakarta. Atas saran saudara dan famili, saya berangkat dari rumah 2 jam sebelum waktu keberangkatan. Asumsinya adalah Bandung di hari weekend akan macet dan mencari taksi agak susah, it’s better early than late.

Perjalanan dari rumah saudara di Babakan Jeruk hingga stasiun seperti yang dibayangkan ternyata, jalanan ramai namun tidak padat merayap. Sopir taksipun tampaknya jago jalanan bandung, cukup 16 ribu dan tambahan 2 ribu untuk biaya masuk stasiun dan saya langsung melenggang keluar.

Tiba di stasiun sekitar jam 5.30. Satu setengah jam kosong hingga keberangkatan kereta, kereta api yang akan kunaiki juga belum datang, duduk manis di kursi yang tersedia di peron bukanlah sebuah pilihan bagiku. Dan sehubung hari sudah mulai agak gelap, dan ada resto Hoka-Hoka Bento, ya jadi deh 😀

Pesan Paket Hemat A seharga 17 ribu, proporsi salad dan nasinya sudah cukup untuk membuat kenyang sedangkan gorengannya (entah namanya apa) hanya terasa selintas saja, asin-asin enak sih. Sambil melahap paket bento tersebut kuselingi dengan membaca ulang The Girl With Dragon Tattoo oleh Stieg Larsson.

Entah kenapa ketika membuka buku tersebut secara acak, tiba-tiba mendarat di halaman ketika Lisbeth bertemu dengan Advocate Bjurman, tepatnya pertemuan ketika Bjurman meng……. emmm, gonna skip that part because it made my stomach queasy.

Makanan habis, dan mood sedikit negatif karena salah buka halaman. Thus I meandered to my notebook. Ada sebuah gambar yang belum selesai kugambar. Konsep atau temanya kira-kira adalah dancing among the stars. Sebenarnya inginnya sesuatu yang ada kaitannya dengan episode Doctor Who yang “Vincent and the Doctor”, instead I drew a pair of lover with a houses silhouette and shamelessly add some stars which I hope looks like the one in the Starry Night.

105_1896

Makanan habis, buku tidak mood dilanjutkan dan gambar sudah selesai. What to do next?

105_1898

Of course make a paper crane!!

Tidak terasa jam tiba-tiba sudah menunjukkan pukul 18.55 dan sudah ada pengumuman melalui interkom bahwa kereta  api Lodaya telah tiba di peron 6. So I rush-a-gush, pack my stuff and trot to my train.

Kereta Lodaya Bandung-Jogja berangkat jam 19.00 dan tiba pukul 2.50, menunggu lagi? Oh tidak, tentu saja jelang waktu panjang itu kuhabiskan untuk TIDUR!

And that’s it.

I dislike waiting, it’s a lot better to do something. Productive at best and random at…random.

So what do you do in your spare waiting time?

.T

P.S. i don’t usually listen to Korean song, but when I do, It’s Awesome. Credit to Clazziquai Project and Kak Ira!!

Advertisements

4 thoughts on “The Inevitable Wait, To Not Wait

  1. cepet banget yah nyampe stasiunnya!! Tahu gitu berangkat jam setengah 6 aja yah dari rumah 😀
    Happy you like to hear clazziquai ne 😀

    1. Haha itu juga lagi hoki mungkin ya, dapat sopir taksi yang jago. Kita melewati jalan-jalan kecil yang I’m not sure tapi cepat sampai juga.

      I really reaaaalllly love Clazziquai yang Wizard of Oz 😀

Reply This Way Beib

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s