Garuda Tua Menuju Bukit

Cerita dari pengalaman kemarin, penuh drama dan aku sudah lelah berbahasa formal.

Ini juga dishare dengan teman-teman grup WA Cardtopost Jogja Chapter ;)

Kemarin aku mendapat tugas untuk wawancara seorang desainer di daerah Uluwatu, Jimbaran. Itu jaraknya 20km dari kos. Jadi aku memutuskan untuk pinjam motor kantor.

Sebuah honda impressa tua, reyot yang kalau kamu naiki ada suara kretek kretek nya.

Sebelumnya aku pernah naiki motor ini ke lokasi yang dekat, ke atm dekat kantor dan semacamnya. Jadi pikirku santai sajalah bawa motor ini, pasti bisa.

Semakin lama bawa motor ini, aku semakin sadar bahwa ini motor Bobrok (dengan kapital B karena dia beneran Bobrok banget). Tengah perjalanan tiba tiba dia mulai ngadat dan ngelunjak seperti kuda. Dan aku benar benar benar benar takut banget. Itu posisi sudah di jalan ring road/toll nya sana. Jadi ya tidak bisa berhenti dan tidak bisa minta tolong. Aku paksa jalan aja dengan gigi 3 dan gas sedang.

Nah, teman teman.. Uluwatu itu lokasinya di atas, jadi harus naik gunung dan jalannya seperti bukit petruk yang ke arah Wonosari. Tambah parno lah diriku.  Tapi karena sudah sampai sana jadi kubawa saja motornya.

Kriek Kriek krieeeettt, begitu suaranya sepanjang jalan. Mana aku sering salah pencet tombol rifting jadinya malah pencet klakson lagi, aduh malu banget sama orang-orang di depan yang celinguk aku kenapa mendadak klakson alay gt..

Sampai di lokasi wawancara, itu motor sudah panas. Dan aku cuma bisa berdoa kalau dia masih bisa hidup ketika aku mau pulang nanti.

Wawancara berlangsung dengan damai dan aku kembali ke.motor bobrok ini. Starter pertama gagal, starter kedua sempat nyala tapi mati lagi. Starter kaki dan dia mengeluarkan suara ngepet ngga jelas D:

Akhirnya aku starter lagi tapi kali ini langsung tarik gas tinggi. VROOOOOOMMMM!! Kayak preman mau cari masalah dan aku diliatin sama orang sekitar. Cengengesan aja deh, karena senyum ala innocent itu solusi segala situasi awkward.

Karena sudah di Uluwatu, jadi aku sempatkan ke GWK dan tempatnya memang bagus banget. Parkir 5 rb dan biaya masuk nya 50rb. Ada banyak foto yang kuambil dan puas lah di sana.

Selesai putar putar, perjalanan pulang.. Motor berhasil menyala di starter kedua, dan aku langsung cabut dari lokasi. Turun gunung, dan you know guys, remnya kayaknya mau jebol deh..

Sempat nyasar dua kali, dan udara dingin banget. Tapi di perjalanan pulang kali ini aku pasang lagu + headset dan selama perjalanan nyanyi nyanyi lagu dari film Guardians of Galaxy. Hooked on a feeling! I’m high on believing, that you’re in love with me!! Lagu lagu classic rock yang asyik menemani dan menenangkan diriku yang panik karena nyasar dan dingin.

Setelah banyak bertanya agar tidak (semakin) sesat dijalan, aku tiba di jalan yang benar dan kembali meluncur. Selagi menunggu lampu merah, di tengah bait lagunya siapa aku lupa, tiba tiba di colek sama orang Bule.

Aku kaget dan kelabakan, tapi dia ternyata cuma tanya Sanur ke arah mana. Dan ketika aku bilang aku juga ke sana, dia bilang akan mengikutiku. Dan kita berdua iring iringan (dia di belakang) sampai kita tiba di lampu merah sanur dan pisah jalan.

Aku balik ke kantor, taruh motor, balik ke kos, mandi dan diajak temanku makan. Walaupun capek tapi ya tidak apa lah..

Balik ke kos sudah jam 10an aku langsung tidur pulas..

Aku tanya tanya sama orang kantor, dan ternyata si motor yang kunaiki ini keluaran tahun 98. Berarti dia sudah berumur sweet sixteen. Gila nih motor. Sudah shock breaker nya jebol, reyot, berat dan remnya bablas..

Jadi mulai sekarang, motor itu akan kunamakan Garuda. Sebuah hewan mitos, legendaris, ababil yang menjadi tunggangan para dewa.

Nanti ku foto deh motornya agar kalian lihat sendiri karatnya. Tapi ini benar-benar pengalaman sekali seumur hidup dan setelah selesai baru bisa ketawa ngakak. Walaupun mengerikan tapi sangat asyik banget deh :D

Posted from WordPress for Android

Arriving in Bali

Oke Bali. Sebenarnya rencana untuk mem-posting satu ini sudah sejak lama, namun baru sekarang ada kesempatan untuk menulisnya..

.

Allo!

Perjalanan menuju Bali ini sebenarnya disarankan oleh seorang sahabatku bernama Lisa. Sebelumnya ia magang di Bali Dailysubsidiary company The Jakarta Post, sebuah suplemen koran yang bergerak di berita lifestyle, entertainment dan travelling.

Posisiku yang memasuki semester 7 ini mengharuskanku untuk mengambil KKL (magang), dan berhubung magang ku di TJP dimulai bulan Oktober, otomatis saya tidak bisa mengambil mata kuliah apapun karena resiko bolos panjang selama masa UAS. Lisapun menyarankan, daripada tidak ada kerjaan, cobalah ke sini.

Maka dengan restu, izin, dan bantuan ekonomi orang tua dan uang tabungan berangkatlah diriku menuju Denpasar, Bali. Arriving in Balidramas and stories of day one living with myself.

Yang Arnold Palmer itu dari zaman SMP di Balikpapan. Setelah ditimbang beratnya 15 kg, asereheeee

Yang Arnold Palmer itu dari zaman SMP di Balikpapan. Setelah ditimbang beratnya 15 kg, asereheeee

Continue reading

Florence Sihombing Fever

So hey ho, sejak tanggal 1 September lalu saya sudah di Bali dan akan memulai magang di Bali Buzz – The Jakarta Post- untuk sebulan. Post yang satu ini mengenai hari-hari semenjak tiba di pulau Dewata ini. Langsung mulai ya…

Bali itu asyik, salah satu faktor yang membuat tempat ini menyenangkan adalah orang-orangnya yang ramah dan penuh senyum. Tiba di bandara Ngurah Rai, karena masih bingung dengan sistem transportasi Bali (dan ditambah koper saya yang segedhe gabah) saya memutuskan untuk menggunakan taksi untuk ke lokasi Kos.

Taksi di Bali mahal, tapi memang ada ya taksi yang murah? Luxury comes with a price, maka untuk mengurangi rasa sakit hati saya akan dompet yang kian menipis, saya mengajak ngobrol sang supir taksi. Dimulai dengan pertanyaan standar, ‘bapak dari mana?’, kos di Bali berapaan?’, ‘kalau saya mau ke Nusa Dua bagaimana?’, ‘trayek angkot Bali dimana?’ dan you know lah, pertanyaan semcam itu. Hingga memasuki momen kenalan dan saya menjawab berasal dari Yogya.

Oh Jogja, gek? Itu si Florence gimana sih ceritanya?” dan mulailah saya menjelaskan duduk perkara Florence Sihombing -Ratu SPBU Lempuyangan- terhadap bapak Supir Taksi. Pembicaraan kami panjang lebar dan menyentuh isu-isu hukum dan etika.

.

Sehari kemudian saya masuk ke kantor Bali Buzz, disana berkenalan dengan para karyawan yang bekerja di sana dan saya duduk-duduk di ruang tamu. Beberapa saat kemudian, muncul salah dua karyawan dan kami mulai mengobrol, “Kalau menurutmu, si Florence itu bagaimana?”. Muncul lagi nih nama yang satu ini. Sayapun mulai menjelaskan lagi bagaimana duduk perkara nona Sihombing.

Pembicaraan kali ini melebar ke etika dan kami membandingkan isu ini dengan twitt sehari-hari para perantau jakarta yang mencaci-maki kemacetan Jakarta. Sebenarnya mirip saja kan dengan yang dilakukan oleh Sihombing? Karena itu, terlihat jelas bahwa ada saja yang namanya korban sensasi, dan bagaimana pemerintah tidak dapat membuat peraturan yang jelas akan tata tertib masyarakat online Indonesia.

.

Pada hari yang sama pula, saya naik bemo (bukan becak motor, tapi panggilan orang Bali akan kendaraan angkot). Disana saya sempat bertanya-tanya dan mengobrol dengan supir. Setelah saya mengatakan saya berasal dari Jogja, yeaaaaaah Florence lagi yang ditanya.

Hal ini juga terjadi di keesokkan harinya ketika saya berkunjung ke sebuah museum. Saya yang clingak-clinguk di depan etalase lukisan didekati salah satu petugas dan kami berkenalan. Setelah ia mengetahui saya dari Jogja, ia pun juga minta dijelaskan duduk perkara Florence.

.

Intinya, 3 hari terakhir ini tidak lepas dari membicarakan akan sepak terjang nona satu itu. Yah, lumayan lah sebagai ice breaker dalam berkenalan dengan orang baru. Namun lama-lama saya merasa seperti juru bicaranya saja..

Dari semua pembicaraan itu, ada beberapa hal yang mulai saya tarik garis merahnya,

pertama, kasus Florence ini memang terkenal luar biasa. Social media, televisi, koran bahkan koran daerah Bali pun ikut mengikuti kasus ini. Sensasional lah.

kedua, Florence adalah ‘penjahat’ atau ‘korban’? Respon orang bervariasi, ada yang menyetujui bahwa apa yang dilakukan Florence memang keterlaluan dan sudah sepantasnya dia dihukum. Namun ada juga yang merasa bahwa masyarakat dan kepolisian Jogja terkesan berlebihan. Menurut saya, mereka bisa mengatakan kita lebay karena mereka tidak melihat situasi Jogja saat itu, yaitu panas, macet, antri bensin hingga tumpah 100 meter keluar SPBU.

ketiga, Florence adalah kambing hitam Jogja. Dalam kegerahan kelangkaan BBM yang lalu, masyarakat resah namun berusaha menahan amarah dan tidak melakukan aksi anarkis. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ada rasa geram di hati, munculnya sebuah status Path yang bersamaan dengan moment ini seakaan menjadi sudut pelampiasan kita semua. Saya pun juga tertegun, kesal dan ikut mensyukuri aksi bully yang ia terima.

keempat, maafkanlah dia. Toh kita-kita pasti juga pernah membuat status twitter yang berkomentar pedas akan macet di Jakarta, Bali atau sepanjang mudik itu. Selain itu, ada lebih banyak isu yang harus kita perhatikan ketimbang Florence. Dan seperti yang Pak Butet Kartaredjasa katakan di Facebooknya,

          “Flo itu spt knalpot blombongan. Kita sering terganggu bunyi knalpot asu itu, tapi ya udah. Santai wae bung. Ikhlas aja ta. Mosok kita lalu nguber pemilik motor penyebab adanya bunyi knalpot yg tdk menyenangkan itu, trus memperkarakan secara hukum dan menahannya? Apakah kicauan hujatan yg aslinya cuma monolog interior itu, merugikan org Yogya?

 

        Mengancam nasib kita? Membikin kita esok pagi modiaaar? Nggak tuh!!! Saya malah dapet energi baru utk membuktikan bahwa saya, yg kebetulan org Yogya adalah org beradab, tdk tolol dan bukan bangsat.”

Salam dari Jogja! Kota yang berbudaya, beradab, dan tidak tolol!

The Great Petrol Scarcity of 2014

Ngetik post yang satu ini sambil antri BBM.

Belum 3 hari yang lalu saya mengisi motor untuk membeli bensin premium Rp. 5.000,00. Dan sekarang saya sedang ndembik di mobil, mengetik post ini sesudah mengantri untuk Pertamax seharga Rp.11.500,00.

Ekstrem luar biasa, premium habis dari dua hari yang lalu dan belum ada informasi jelas kapan Pertamina akan memasok lagi. Saya sempat mengobrol sedikit dengan karyawan SPBU, ia mengatakan bahwa biasanya truk Pertamina menyetok ulang bensin setiap hari. Namun beberapa hari terakhir ini, mereka belum kunjung datang dan belum ada kepastian kapan mereka akan tiba. Rasanya minggu-minggu ini senantiasa harus kita ingat sebagai That Great Petrol Scarcity of 2014 (in which SBY screwed up big time).

Mengerikan, rasanya kejadian kali ini tidak separah ketika presiden mengeluarkan dekrit menaikkan harga BBM. Memang untuk waktu ini tidak ada demo atau aksi anarkis lainnya. Namun saat memperhatikan sekeliling SPBU, dan melihat wajah wajah yang sama-sama lelah mengantri.. Sedih lah rasanya.

Apa yang terjadi dan menyebabkan kita jatuh seperti ini? Beberapa hari yang lalu saya menonton editorial Metro Tv di pagi hari, salah satu tamu pembicara mengatakan bahwa kita bisa menyalahkan kelangkaan ini pada perundangangan APBN yang kacau dan terlalu bebas memberikan subsidi premium. Bahwa 20% dana APBN habis untuk meringankan beban bayar bensin premium ini. Ia kemudian mempertanyakan kenapa pemerintah Indonesia bisa membiarkan subsidi ini terus dilancarkan, padahal jelas bahwa subsidi satu ini bagai bocor besar di dana APBN.

Semakin banyak orang yang membeli premium bersubsidi, maka semakin rugi negara kita. Pemerintah jual rugi dan mau bagaimana lagi? Memang beginilah daya beli masyarakat kita. Ditambah dengan transportasi umum yang kacau balau, ya semakin malas lah kita untuk menggunakan bis yang bobrok dan halte yang berjauhan.

Belum lagi pernyataan dari menteri ESDM yang menyatakan bahwa pasokan BBM Bersubsidi Indonesia akan habis di awal Desember. Tambah paniklah masyarakat kita. Belum lagi pernyataan dari Pertamina bahwa BBM tidak langka, hanya mengalami pembatasan ketat saja. Masyarakat dari panik sekarang malah jadi bingung. Maka mengutip Novela Nawipa di sidang MK lalu, “Bapak kacau, saya lebih kacau Pak.”

Maka ketika pemerintah memutuskan untuk membatasi distribusi premium, ya beginilah hasilnya. Antri panjang di semua SPBU hingga tumpah keluar jalanan. Kacaulah..
.
Satu hal yang bisa kita lihat perbedaan mencolok dibanding tahun lalu, kelangkaan BBM ini tidak diikuti aksi demonstrasi. Apakah hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah semakin dewasa atau mereka malah menyerah? Saya lebih memilih pernyataan pertama, bahwa masyarakat sekarang sadar bahwa krisis ini akan bisa teratasi dengan damai, salah satunya adalah dengan menaikkan harga BBM. Masyarakat sebenarnya mampu untuk kenaikan harga ini, buktinya bensin Premium yang mahal itu ikut habis terjual kok. Baik untuk pembeli mobil maupun motor.

Memang kenaikkan harga ini akan berimbas besar pada dompet dan kenyamanan status quo kita. Tapi bila kita sebagai rakyat bisa melihat, memahami dan ikut serta dalam keputusan pemerintah, maka naikkanlah harga BBM. Namun boleh sekali bila pemerintah ikut memperbaiki kinerja dan fungsi transportasi umum.

Addiction Anonymous

Today I realised that I have an addiction, it’s called Reading and I’m going to try to reign it down.

You might think that this Reading (with capital R), is not an addiction. That it’s a good thing to supply your mind with endless reads, but too many goods will end up bad as well. If you start your day with reading, followed by breakfast and more reading. Taking a bath and waits for the time for class by reading, and finish your day by reading yourself to sleep, well it’s bad.

I’ve timed it, and my daily readings could stretch from 8-10 hours a day. Now that I really think about it, it is bad. I realise that this love of reading I have, it is starting to become a sort of escapism from real life event. I’m starting to ignore matters at hand and lazily flick my mind on some fiction.

This revelation started when I was in a middle of reading a story by an independent online author (oh gosh, who am I kidding? It’s a fanfiction in AO3..). At some point, I found myself rather bored and felt the story overtly bland and predictable. The plot seemed recycled and the characters borderline depressing and just plain sad. But as I keep on complaining and makes small derogatory remark upon the fiction, I also keep on reading the thing until it’s finished. I ended up telling my self, “what the frak have I’ve been reading?” a bit angrily.

It felt like those romanticised Train Crash phenomenon. I cant stop from seeing this disaster until everybody is left crashing and burning from the train wreck. I know I’m supposed to just drop the story and go on with other things, like trying to find an alternative reading choice, and that’s what took me by surprise. All this readings, train wrecks and horrible fiction, when will I stop?

That question made me think about my experience as a book nerd. I love reading ever since I was a kid. And I also regard my self as a comprehensive reader. The kind of reader who look beyond the narrative and try to point out the altruism aspect of the story. I love digging into a book and found the tiny niche plot and emotion you could examine. And that is also the reason why I’m completely entranced with the fanfiction world. It really supply my mind who wants to know more and analyse more about a certain scene of a story.

Another point, lately I’ve been really into AO3 since the people/author there are really nice and communicative. There’s a certain pleasure to review a story and receive an instant reply from the author. This usually ends up with a rather intense series of chats with the author which I really love.

Does that mean I crave for communication? Mayhap that is true as well. It is hard to find somebody whom you could engage in a literary level about something you’re both passionate about. And that kind of reasoning made me want to read as much as books, stories and online fictions the Internet could provide. I started hounding links after links, recommendations after another. I could gobble a 100 pages in notch time. Reading become an important aspect I need to supply my bored as hell mind. But over the weeks and months, I started to realise that I’m tired and I want to stop reading, but how?

A quick look at Google and I found a link that held several interesting article. They claimed the existence of Reading Addiction and how to fight it. And like a lot of self-help tips in battling addiction, it started with admitting the fact that you’re addicted.

So yeah, my name is Tane and I’m addicted to reading.

Been A Long Time

Sudah lama sekali semenjak terakhir menulis apapun di Blog ini. Entahlah, memang ada yang membacanya kah?

Meanwhile, ada situs yang asik nih bagi yang suka menggambar: http://www.magatsu.net/art/. Adalah sebuah random drawing prompt generator, dan entah kenapa tema-tema yang dia keluarkan agak dark dan lovercraft-ish.

Temanya adalah: siblings with unconventional hair color

Temanya adalah: siblings with unconventional hair color

That’s it. Cuma nge post sebagai simbolik kalau nih blog belum mati.

 

[]ciao!